Drone kamikaze terbaru milik militer Amerika Serikat yang disebut LUCAS (Low-Cost Uncrewed Combat Attack System). | U.S. NAVY


Tujuh bulan. Hanya tujuh bulan yang dibutuhkan sejak drone LUCAS pertama kali diperkenalkan kepada publik hingga senjata itu digunakan dalam pertempuran sungguhan. Bagi standar pengembangan senjata militer yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun ini adalah kecepatan yang tidak biasa.

Pada 28 Februari 2026, AS meluncurkan Operasi Epic Fury bersama Israel — serangkaian serangan terhadap Iran yang menargetkan fasilitas komando-kendali, sistem pertahanan udara, pangkalan rudal, dan lapangan udara militer. 

Di antara senjata yang digunakan dalam operasi itu adalah LUCAS, drone serangan yang selama ini banyak dibicarakan tapi belum pernah benar-benar diuji di medan tempur.

Yang membuat kehadiran LUCAS menjadi menarik secara strategis bukan hanya kinerjanya, melainkan asal-usulnya. Drone ini dimodelkan berdasarkan Shahed-136 yang merupakan drone kamikaze buatan Iran yang selama dua tahun terakhir menjadi momok bagi sistem pertahanan udara Ukraina dan mitra Barat. 

AS, dengan kata lain, menyerang Iran menggunakan senjata yang diilhami oleh Iran sendiri.

Senjata yang lahir dari puing musuh

Kisah LUCAS dimulai dari sebuah keputusan yang pragmatis. Pentagon memperoleh rangka Shahed-136 yang rusak—kemungkinan besar dari medan perang Ukraina—dan menyerahkannya kepada SpektreWorks, perusahaan pertahanan yang berbasis di Arizona. 

Petugas polisi Ukraina memeriksa drone Rusia yang jatuh di area sebuah lembaga penelitian, bagian dari Akademi Sains Nasional Ukraina, setelah serangan, di barat laut Kyiv, pada 22 Maret 2022. | FADEL SENNA/AFP

Instruksinya sederhana: pelajari, buat ulang, dan tingkatkan. Hasilnya adalah LUCAS, atau Low-cost Unmanned Combat Aerial System.

SpektreWorks mendapat kontrak senilai US$30 juta untuk produksi awal. Secara fisik, LUCAS sangat mirip dengan Shahed-136 dengan panjang sekitar tiga meter dengan rentang sayap 2,4 meter, ditenagai mesin piston dengan baling-baling di bagian belakang. 

Tapi di balik kemiripan itu ada sejumlah peningkatan yang signifikan.

LUCAS mampu terbang hingga enam jam dengan kecepatan jelajah sekitar 100 kilometer per jam, dan bisa berakselerasi hingga 185 kilometer per jam saat mendekati target. Ketinggian operasinya melampaui 3.000 meter menempatkannya di luar jangkauan sebagian besar sistem pertahanan udara jarak pendek. Muatan eksplosifnya mencapai 18 kilogram, yang menurut analis pertahanan Alex Hollings setara dengan sekitar dua kali daya ledak rudal Hellfire.

Perbedaan paling mencolok dengan Shahed terletak pada kemampuan elektroniknya. Beberapa varian LUCAS dilengkapi terminal Starlink dan sensor elektro-optis, yang memungkinkan drone ini tidak hanya beroperasi sebagai peluru terbang satu arah, tetapi juga sebagai platform pengintai dan dalam konfigurasi tertentu bekerja secara kooperatif dalam kawanan yang terkoordinasi secara otonom.

Ketika murah menjadi keunggulan

Harga satuan LUCAS saat ini berada di kisaran US$35.000. Angka itu mungkin terdengar mahal, tapi dalam konteks persenjataan militer modern, ini tergolong sangat murah. Sebagai perbandingan, satu rudal jelajah Tomahawk dihargai sekitar dua juta dolar, sementara pencegat rudal Patriot PAC-3 mencapai empat juta dolar per unitnya.

Di sinilah logika strategis LUCAS mulai terlihat lebih jelas. Menggunakan rudal Patriot senilai US$4 juta untuk menembak jatuh satu drone seharga US$35.000 adalah kalkulasi yang tidak menguntungkan bagi pihak bertahan terlebih jika drone itu datang dalam jumlah ratusan secara bersamaan. 

Inilah yang disebut saturasi pertahanan udara: pihak penyerang tidak perlu menang dalam setiap serangan, cukup membuat sistem pertahanan musuh kewalahan dan kehabisan amunisi.

Pentagon memproyeksikan bahwa jika produksi LUCAS ditingkatkan hingga ratusan ribu unit, harga per unit bisa turun drastis hingga US$5.000. Pada titik itu, biaya produksi seluruh kawanan drone mungkin tidak lebih mahal dari satu rudal pencegat yang digunakan untuk menghentikannya.

Latar belakang urgensi ini juga berasal dari kalkulasi stok amunisi AS sendiri. Sejumlah analisis internal Pentagon memperkirakan bahwa dalam konflik intensitas tinggi, cadangan senjata presisi AS hanya akan bertahan tujuh hingga sepuluh hari. LUCAS dirancang sebagai jawaban atas kelemahan itu.

Siklus peniruan yang berlapis

Ada lapisan ironi yang lebih dalam di balik hubungan LUCAS dan Shahed. 

Lockheed Martin RQ-170 Sentinel, sebuah pesawat nirawak (drone) pengintai siluman yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) untuk CIA. |USAF

Pada 2011, Iran berhasil memaksa mendarat sebuah drone pengintai siluman AS RQ-170 Sentinel di atas wilayahnya. Para insinyur Iran kemudian mempelajari teknologi itu, dan sebagian hasil rekayasa balik tersebut diyakini berkontribusi pada pengembangan program drone Iran berikutnya, termasuk Shahed.

Kini giliran AS yang belajar dari platform Iran. 

HESA Shahed-136, sebuah drone "kamikaze" atau amunisi pintar buatan Iran. | IRNA

LUCAS adalah turunan dari Shahed, yang sebagian ilmunya berasal dari drone AS. Dalam konflik 28 Februari itu pun, kedua belah pihak menggunakan varian dari senjata yang sama secara bersamaan: AS menyerang Iran dengan LUCAS, sementara Iran membalas dengan barisan Shahed-136 ke instalasi militer AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

SpektreWorks sendiri sebelumnya juga memproduksi FLM-136 yang merupakan replika Shahed-136 yang digunakan dalam latihan militer AS untuk mensimulasikan ancaman drone Iran. 

Perusahaan yang sama yang dulu membuat tiruan musuh untuk latihan, kini memproduksi tiruan itu untuk operasi tempur nyata.

Batas kemampuan LUCAS

LUCAS dikembangkan dalam konteks konflik darat-udara di Timur Tengah dan Eropa Timur, di mana sasarannya sebagian besar adalah infrastruktur tetap. Tapi pertanyaan yang mulai diajukan sejumlah analis pertahanan adalah sejauh mana konsep ini relevan untuk skenario yang berbeda — khususnya konflik di Indo-Pasifik.

Di kawasan itu, sasaran utama kemungkinan bukan gedung atau pos komando, melainkan kapal perang. 

Kecepatan rendah dan muatan 18 kilogram yang cukup untuk merusak infrastruktur darat mungkin tidak memadai untuk melumpuhkan kapal serbu amfibi berbobot ribuan ton. Senjata anti-kapal seperti rudal Harpoon dirancang khusus dengan kecepatan dan daya ledak jauh lebih tinggi untuk kebutuhan itu.

Ada juga soal jarak. Geografi Indo-Pasifik adalah kumpulan kepulauan yang tersebar di lautan luas. Memperpanjang jangkauan sebuah drone berarti menambah bahan bakar, memperbesar rangka, atau keduanya, yang pada gilirannya mendorong biaya ke atas dan mengikis keunggulan ekonomi yang menjadi premis utama seluruh konsep ini.

Taiwan sendiri memesan sekitar seribu UAV dari AS pada 2024 dan menetapkan target pengadaan 47.000 drone tambahan dalam empat tahun ke depan. Namun para ahli pertahanan menilai angka itu masih jauh dari cukup untuk standar perang modern, di mana kedua pihak dalam konflik intensitas tinggi diperkirakan akan menghabiskan ribuan drone setiap hari.

Yang jelas, LUCAS menandai sesuatu yang lebih luas dari sekadar satu jenis senjata baru. Ini adalah sinyal bahwa logika perang—bagaimana kemenangan dihitung, berapa biaya yang dianggap wajar, dan siapa yang bisa memproduksi apa dalam waktu berapa lama—sedang bergeser.