![]() |
| Sebuah kapal tanker gas LPG berlabuh karena lalu lintas menurun di Selat Hormuz, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Shinas, Oman, 11 Maret 2026. | REUTERS/Benoit Tessier |
Sekretaris Jenderal António Guterres menawarkan peran aktif Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang kini terganggu akibat konflik regional. Ia mengusulkan mekanisme mirip Inisiatif Biji-Bijian Laut Hitam guna menjamin lalu lintas kapal tetap berjalan di tengah situasi keamanan yang rapuh.
Dalam wawancara dengan Politico yang dipublikasikan 21 Maret, Guterres menyebut PBB telah menyiapkan skema operasional untuk mengelola jalur aman tersebut, dengan pendekatan yang disesuaikan kondisi kawasan Teluk. Ia menekankan perlunya koordinasi langsung dengan Amerika Serikat dan negara lain yang terlibat dalam dinamika keamanan di kawasan.
Krisis di jalur vital energi dunia itu memuncak sejak akhir Februari, ketika serangan militer AS dan Israel terhadap Iran menewaskan Ali Khamenei.
Respons Teheran datang cepat. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran mengancam akan menutup selat dan mulai menyerang kapal komersial, memicu anjloknya lalu lintas tanker hingga mendekati nol.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak global. Gangguan yang berkepanjangan segera memantik lonjakan harga energi dan menekan rantai pasok internasional.
Di lapangan, Iran memberlakukan kebijakan selektif dengan tetap mengizinkan kapal dari sejumlah negara seperti China, India, Turki, dan Arab Saudi melintas, sambil membatasi kapal yang terafiliasi dengan Barat. Pada 21 Maret, Teheran juga membuka akses bagi kapal Jepang, mengingat ketergantungan negara itu pada minyak Timur Tengah.
Dorongan diplomatik untuk membuka kembali selat menguat. Sejumlah negara Eropa bersama Jepang dan Kanada merilis pernyataan bersama yang mengutuk penutupan de facto jalur tersebut serta mendesak Iran menghentikan ancaman, pemasangan ranjau, dan serangan terhadap kapal. Di tingkat regional, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas disebut telah mendiskusikan pendekatan model Laut Hitam dengan Guterres.
Berbicara di Brussels, Guterres mengingatkan dampak luas krisis ini terhadap negara yang tidak terlibat konflik.
“Hentikan serangan terhadap negara-negara tetangga Anda; mereka tidak pernah menjadi pihak dalam konflik ini. Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi begitu banyak orang di seluruh dunia yang tidak ada hubungannya dengan konflik ini,” ujarnya.
Di Washington, penilaian internal pemerintah menggarisbawahi kompleksitas membuka kembali jalur tersebut.
Laporan Badan Intelijen Pertahanan yang beredar di Pentagon, seperti dikutip CNN, menyebut Iran berpotensi mempertahankan penutupan selat selama satu hingga enam bulan. Meski kapasitas militernya terdampak serangan AS dan Israel, Iran masih memiliki kemampuan mengganggu pelayaran melalui ranjau laut, kapal cepat, dan kapal selam mini.
Guterres mengatakan dirinya belum melakukan kontak langsung dengan Presiden Donald Trump sejak eskalasi terbaru, namun PBB tetap terlibat dalam berbagai inisiatif yang berkaitan dengan upaya meredakan ketegangan dan menjaga jalur perdagangan tetap terbuka.

0Komentar