Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara selama konferensi pers untuk media internasional di Kantor Pers Pemerintah di Yerusalem, 04 September 2024. ABIR SULTAN/REUTERS

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan operasi militer terhadap Iran kemungkinan membutuhkan keterlibatan pasukan darat jika tujuannya adalah menggulingkan rezim di Teheran. Pernyataan ini disampaikan saat konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat memasuki pekan ketiga.

Berbicara dalam konferensi pers di Yerusalem, Netanyahu menggambarkan posisi Israel sebagai sangat dominan di medan tempur. Ia mengatakan serangan gabungan telah melumpuhkan berbagai kemampuan militer Iran, mulai dari sistem pertahanan udara hingga infrastruktur rudal.

"Israel tidak pernah sekuat ini dan Iran tidak pernah selemah ini," kata Netanyahu. 

Ia mengklaim Iran telah kehilangan kapasitas untuk memperkaya uranium dan memproduksi rudal balistik, setelah ratusan peluncur dan fasilitas produksi dihancurkan.

Namun, di tengah optimisme itu, Netanyahu mengakui keterbatasan strategi berbasis serangan udara. Ia menyebut perubahan rezim tidak bisa dicapai sepenuhnya tanpa operasi darat. 

"Anda bisa melakukan banyak hal dari udara, dan kami sedang melakukannya, tetapi harus ada komponen darat juga," ujarnya, seraya menambahkan bahwa terdapat "banyak pilihan" untuk skenario tersebut tanpa merinci lebih jauh.

Konflik ini berlangsung di tengah sikap hati-hati dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan tidak berencana mengerahkan pasukan darat AS ke kawasan. 

Netanyahu menegaskan bahwa perubahan rezim pada akhirnya bergantung pada dinamika internal Iran. 

"Kami bisa menyiapkan panggungnya, tetapi mereka harus memanfaatkan kesempatan tersebut," katanya.

Laporan The New York Times menyebutkan bahwa serangan Israel juga menyasar aparat keamanan dalam negeri Iran, termasuk pusat komando milisi Basij. Target tersebut dinilai strategis karena kelompok itu kerap digunakan untuk meredam gelombang protes domestik.

Di saat yang sama, Netanyahu menepis klaim yang beredar luas di media sosial mengenai kematiannya, yang dipicu oleh konten visual hasil kecerdasan buatan. Ia menyebut informasi tersebut sebagai bagian dari disinformasi yang disebarkan oleh media pemerintah Iran dan akun pro-rezim.

Hubungan Israel dan AS juga tampak diuji oleh dinamika di lapangan. Menurut laporan Associated Press, keputusan Israel menyerang ladang gas South Pars menjadi salah satu titik ketegangan paling mencolok antara kedua sekutu. Netanyahu mengatakan ia telah menyetujui permintaan Trump untuk menunda serangan lanjutan terhadap fasilitas tersebut.

"Apakah ada yang benar-benar berpikir bahwa seseorang bisa menyuruh Presiden Trump melakukan sesuatu?" kata Netanyahu, menanggapi tudingan bahwa Israel menyeret AS lebih dalam ke konflik.