![]() |
| Fasilitas produksi gas alam cair ( LNG ) Qatar Energy , di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Kota Industri Ras Laffan, Qatar 2 Maret 2026. | REUTERS/Stringer |
Pemerintah Israel menghentikan serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran setelah adanya permintaan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keputusan ini muncul di tengah konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran yang telah mengguncang jalur energi global dan memicu lonjakan harga komoditas.
Langkah penghentian serangan diumumkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 20 Maret. Keputusan tersebut berkontribusi pada meredanya tekanan harga energi, meski situasi di lapangan masih jauh dari stabil.
Selat Hormuz lumpuh, pelayaran tersendat
Konflik yang dimulai pada akhir Februari berdampak langsung pada Selat Hormuz, jalur sempit yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Lalu lintas kapal tanker melalui selat itu dilaporkan anjlok lebih dari 90%.
Data yang dihimpun Bloomberg menyebut sekitar 3.200 kapal dengan 20.000 awak terjebak di kedua sisi selat hingga pertengahan Maret. Sementara itu, Reuters melaporkan setidaknya 200 kapal, termasuk tanker minyak dan LNG, terpaksa berlabuh di perairan terbuka sejak awal Maret.
Perusahaan pelayaran Maersk menghentikan seluruh rute melalui jalur tersebut dan mengalihkan kapal ke Tanjung Harapan. Perubahan ini memperpanjang waktu pengiriman Asia–Eropa hingga delapan sampai 15 hari.
Ketegangan meningkat ketika serangan rudal Iran menghantam kawasan industri Ras Laffan di Qatar pada 18 Maret. Otoritas setempat menyebut terjadi “kerusakan parah” di fasilitas yang menjadi pusat ekspor LNG terbesar dunia.
Sebelumnya, QatarEnergy telah menghentikan produksi sejak awal bulan akibat serangan drone.
Pemerintah Qatar kemudian mengusir atase militer Iran dan menyatakan hak untuk membalas sesuai hukum internasional, menurut laporan CNBC.
Harga energi melonjak, pasokan terganggu
Gangguan pasokan langsung tercermin di pasar energi. Harga minyak acuan Teluk yang terkait dengan minyak mentah Oman sempat menembus US$166 per barel. Sementara Brent ditutup di kisaran US$107 pada 20 Maret setelah sebelumnya melampaui US$119.
Ekspor minyak mentah dari Timur Tengah turun tajam menjadi sekitar 11,7 juta barel per hari pada Maret, dari hampir 19 juta barel pada Februari—penurunan sekitar 32%.
Pejabat Arab Saudi memperingatkan harga bisa melampaui US$180 per barel jika gangguan berlanjut hingga April, seperti dikutip The Wall Street Journal.
Di AS, harga bensin rata-rata naik menjadi US$3,88 per galon dari US$2,93 sebulan sebelumnya.
Serangan juga menyasar infrastruktur energi lain di kawasan, termasuk kilang SAMREF di Arab Saudi, fasilitas di Kuwait, serta operasi gas di Abu Dhabi.
Rantai pasok chip ikut tertekan
Dampak konflik meluas ke industri semikonduktor global. Qatar diketahui memasok lebih dari 30% helium dunia, gas penting untuk mendinginkan wafer silikon dalam proses produksi chip. Penghentian operasi di Ras Laffan membuat pasokan helium terganggu.
Lembaga pemeringkat Fitch memperingatkan bahwa pembelian dalam jumlah besar secara antisipatif berpotensi memperparah kelangkaan. Selain itu, pasokan bromin—bahan penting lain untuk chip—juga terancam karena sebagian besar berasal dari Israel dan Yordania.
Korea Selatan, misalnya, mengandalkan hingga 90% pasokan brominnya dari Israel.
Phil Kornbluth dari Kornbluth Helium Consulting mengatakan kepada DW bahwa industri kemungkinan menghadapi penghentian produksi helium selama dua hingga tiga bulan, dengan waktu pemulihan rantai pasok bisa mencapai empat hingga enam bulan.
Penghentian serangan terhadap ladang gas South Pars menjadi salah satu sinyal de-eskalasi terbatas di tengah konflik yang masih berlangsung. Namun, Iran belum menunjukkan tanda-tanda mengurangi intensitas operasi militernya, sementara aktivitas pelayaran di kawasan baru mulai pulih secara terbatas.

0Komentar