Negara-negara Arab Teluk secara tertutup mendesak Amerika Serikat agar tidak menghentikan operasi militernya terhadap Iran terlalu cepat, ketika perang yang melibatkan AS dan Israel memasuki minggu ketiga tanpa tanda gencatan senjata.
Kekhawatiran utama mereka adalah kemampuan ofensif Teheran dinilai masih cukup kuat untuk mengancam stabilitas kawasan dalam jangka panjang.
Laporan Reuters, yang mengutip sejumlah sumber regional, menyebut para pemimpin Teluk tidak meminta perluasan perang. Namun mereka menilai kampanye militer sebaiknya berlanjut hingga kapasitas serangan Iran benar-benar melemah, terutama setelah konflik meluas melampaui wilayah awal pertempuran.
Perang dimulai pada 28 Februari melalui serangan terkoordinasi AS–Israel terhadap target Iran. Sejak itu, konflik berkembang cepat setelah Iran melancarkan serangan balasan lintas kawasan, termasuk ke negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Serangan lintas kawasan ubah kalkulasi
Menurut sumber regional yang dikutip Reuters, perubahan sikap negara-negara Teluk dipicu oleh skala respons Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teheran dilaporkan menembakkan ratusan rudal balistik dan drone yang menargetkan bandara, pelabuhan, fasilitas minyak, hotel, serta pusat komersial di Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Serangan itu merupakan pertama kalinya Iran menyerang seluruh anggota blok Teluk secara bersamaan, memperluas konflik dari konfrontasi militer menjadi ancaman langsung terhadap infrastruktur sipil dan ekonomi kawasan.
Abdulaziz Sager, ketua Gulf Research Center di Arab Saudi, mengatakan persepsi ancaman di kawasan berubah drastis setelah serangan itu.
"Ada perasaan luas di seluruh Teluk bahwa Iran telah melanggar setiap garis merah dengan setiap negara Teluk," ujarnya. "Pada awalnya kami membela mereka dan menentang perang. Tapi begitu mereka mulai mengarahkan serangan kepada kami, mereka menjadi musuh."
Ketegangan meningkat setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sejak 4 Maret. Jalur laut strategis tersebut mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga gangguan langsung memicu kekhawatiran pasar energi global.
Sejumlah pejabat Teluk menilai kemampuan Iran mempertahankan stok rudal atau kapasitas produksi senjata berpotensi menempatkan infrastruktur energi kawasan di bawah ancaman permanen.
"Jika Amerika mundur sebelum tugas selesai, kami akan ditinggalkan untuk menghadapi Iran sendirian," kata Sager.
Dilema strategi negara Teluk
Meski memiliki kepentingan yang sama untuk melemahkan Iran, negara-negara GCC belum menunjukkan kesatuan langkah militer. Sejak konflik dimulai, para pemimpin kawasan baru menggelar satu pertemuan virtual dan belum merencanakan KTT Arab khusus untuk membahas respons kolektif.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan mitra Teluk “semakin meningkatkan peran mereka” dengan membuka akses pangkalan militer dan jalur penerbangan bagi operasi AS. Namun pejabat regional yang dikutip Reuters menyebut keterlibatan militer langsung tetap menjadi pilihan berisiko tinggi.
Aksi sepihak oleh satu negara Teluk dinilai dapat memicu pembalasan langsung Iran tanpa adanya perlindungan kolektif kawasan.
Fawaz Gerges dari London School of Economics menggambarkan posisi negara-negara Teluk sebagai bentuk “pengekangan terkalkulasi”.
Mereka berusaha menjaga keamanan domestik tanpa secara resmi bergabung dalam kampanye militer AS–Israel yang dapat menjadikan mereka target terbuka Iran.
Sager menambahkan Arab Saudi kemungkinan akan mengubah sikap jika Iran melampaui batas tertentu, seperti menyerang fasilitas minyak utama atau instalasi desalinasi air yang menyebabkan korban besar.
"Dalam kasus seperti itu, Arab Saudi tidak punya pilihan selain untuk campur tangan," katanya.
Washington mencari legitimasi regional
Di tengah dinamika tersebut, Washington disebut mendorong dukungan publik yang lebih jelas dari negara-negara Teluk untuk memperkuat legitimasi internasional operasi militer.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya memperoleh dukungan regional yang lebih terlihat di tengah meningkatnya dampak konflik terhadap keamanan energi global.
Bernard Haykel, profesor studi Timur Dekat di Universitas Princeton, mengatakan perubahan situasi keamanan kawasan menjadi faktor utama.
"Sekarang setelah Iran menunjukkan bahwa mereka dapat menutup Hormuz, Teluk menghadapi ancaman yang secara fundamental berbeda. Jika tidak ditangani, bahaya ini akan bersifat jangka panjang," ujarnya.

0Komentar