Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik (ART) Indonesia-AS di bidang ESDM di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/2/2026). | ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK


Indonesia membuka peluang mengimpor minyak mentah dari Rusia sebagai bagian dari strategi memperluas sumber pasokan energi di tengah ketidakpastian pasar global akibat konflik Timur Tengah. Pemerintah menyebut langkah ini sebagai upaya menjaga ketersediaan energi sekaligus mencari harga yang lebih kompetitif.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia tidak membatasi opsi impor hanya pada kawasan tertentu. 

Selama ini, sekitar 20–25% kebutuhan minyak mentah nasional masih bergantung pada pasokan Timur Tengah, wilayah yang kini menghadapi gangguan rantai pasok akibat eskalasi konflik regional.

Kebijakan diversifikasi ini muncul ketika jalur pelayaran energi global menghadapi tekanan, terutama di Selat Hormuz—jalur transit sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut mendorong sejumlah negara mencari alternatif sumber energi untuk mengurangi risiko pasokan.

Bahlil menyatakan pemerintah memprioritaskan ketersediaan barang dan harga sebagai pertimbangan utama. 

“Semua negara ada kemungkinan. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barang ada, yang kedua harganya kompetitif. Itu yang paling penting,” ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3), seperti dilaporkan kantor berita Antara.

Peluang baru setelah kebijakan AS

Opsi impor dari Rusia dinilai semakin terbuka setelah Amerika Serikat pada 12 Maret 2026 memberikan izin sementara bagi pembelian minyak mentah Rusia yang sebelumnya tertahan di laut akibat sanksi. 

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah terbatas yang hanya berlaku bagi minyak yang sudah dalam perjalanan.

Menurut laporan CNBC, sekitar 124 juta barel minyak mentah Rusia saat ini berada di sekitar 30 lokasi berbeda di seluruh dunia. Kondisi itu menciptakan peluang bagi pembeli baru yang mencari pasokan cepat di tengah volatilitas harga energi.

Menanggapi situasi tersebut, Bahlil mengatakan perubahan sikap Washington ikut memengaruhi dinamika pasar. 

“Amerika saja sekarang sudah terbuka terhadap minyak Rusia,” katanya. Ia menambahkan Indonesia juga membuka kemungkinan pasokan dari negara lain seperti Iran dan Venezuela.

Pertimbangan bisnis Pertamina

Keputusan teknis terkait pembelian minyak berada di tangan PT Pertamina sebagai pelaksana impor nasional. Perusahaan pelat merah itu menyatakan masih memantau perkembangan geopolitik sebelum mengambil langkah konkret.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan perusahaan akan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk keekonomian, kecocokan spesifikasi minyak dengan kilang domestik, serta kepatuhan terhadap regulasi internasional.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya menegaskan pemerintah pada prinsipnya membuka opsi diversifikasi pasokan, namun keputusan pembelian tetap merupakan ranah bisnis perusahaan. Ia menyebut belum ada kajian mendalam terkait rencana impor minyak Rusia.

Langkah ini melanjutkan kebijakan awal Maret ketika Indonesia mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan antara AS, Israel, dan Iran yang berdampak pada keamanan jalur pelayaran energi.

Di saat yang sama, pemerintah juga menjajaki kerja sama energi dengan Brunei Darussalam untuk pasokan gas C3 dan C4 yang digunakan sebagai bahan baku LPG, memperluas pendekatan diversifikasi tidak hanya pada minyak mentah tetapi juga sektor gas.