Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte saat menyampaikan pidato pra-KTT di Chatham House. | NATO


Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan aliansi militer tersebut tidak mempertimbangkan untuk mengaktifkan Pasal 5 meskipun sistem pertahanan udara NATO menembak jatuh sebuah rudal balistik yang diduga berasal dari Iran dan menuju wilayah udara Turki.

Insiden yang terjadi pada awal pekan ini menjadi keterlibatan langsung pertama sistem pertahanan NATO dalam konflik Timur Tengah yang kian meluas.

Dalam wawancara dengan Reuters pada Kamis (5/3), Rutte menegaskan bahwa insiden tersebut tidak memicu diskusi mengenai klausul pertahanan kolektif NATO.

"Tidak ada yang membicarakan Pasal Lima," kata Rutte.

Ia juga menegaskan bahwa NATO mendukung langkah Amerika Serikat dalam operasi militernya terhadap Iran. Menurutnya, situasi yang berkembang di kawasan itu berpotensi berdampak pada keamanan Eropa.

"Ini hampir menjadi ancaman bagi Eropa juga," ujarnya.

Kementerian Pertahanan Turki sebelumnya mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara dan rudal NATO yang ditempatkan di Mediterania timur berhasil menghancurkan sebuah rudal balistik yang diluncurkan dari Iran. Rudal tersebut dilaporkan melintasi wilayah udara Irak dan Suriah sebelum mendekati wilayah Turki.

Puing-puing dari rudal pencegat dilaporkan jatuh di distrik Dortyol, provinsi Hatay di tenggara Turki. Tidak ada korban jiwa atau laporan kerusakan serius akibat insiden tersebut.

Menurut laporan The New York Times, rudal itu dijatuhkan menggunakan pencegat SM-3 yang ditembakkan dari kapal perusak Angkatan Laut AS USS Oscar Austin. Intersepsi dilakukan sesaat sebelum tengah malam waktu Timur Amerika Serikat pada Selasa.

Tujuan rudal tersebut masih belum sepenuhnya jelas. Seorang pejabat senior Turki mengatakan kepada AFP bahwa rudal itu kemungkinan diarahkan ke pangkalan militer di Siprus Yunani, namun menyimpang dari jalurnya.

Sumber militer AS yang dikutip The New York Times menyebutkan kemungkinan lain, yakni bahwa rudal tersebut menuju Pangkalan Udara Incirlik di Turki, fasilitas strategis yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika.

Pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut. Militer Iran pada Kamis menyatakan tidak pernah meluncurkan rudal ke arah Turki.

Di Washington, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan penilaian serupa dengan NATO. Ia mengatakan insiden itu tidak menunjukkan indikasi yang dapat memicu penerapan Pasal 5.

"Kami mengetahui pertempuran tersebut, meskipun tidak ada indikasi bahwa hal itu akan memicu sesuatu seperti Pasal 5," kata Hegseth kepada wartawan di Pentagon.

Turki merespons insiden tersebut dengan langkah diplomatik. Pemerintah Ankara memanggil duta besar Iran untuk memberikan penjelasan terkait kejadian tersebut.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan juga berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dalam percakapan itu, Ankara memperingatkan bahwa setiap langkah yang berpotensi meningkatkan ketegangan harus dihindari.

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pemerintah Turki telah mengambil berbagai langkah pencegahan sambil terus berkoordinasi dengan sekutu-sekutu NATO.

"Kami mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan," kata Erdogan dalam pidato nasionalnya.

Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan memicu serangkaian serangan balasan dari Teheran terhadap sejumlah target di kawasan.

Sejak saat itu Iran dilaporkan melancarkan serangan ke berbagai negara di Timur Tengah, termasuk beberapa negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Turki, yang memiliki perbatasan darat sepanjang sekitar 300 mil dengan Iran, sebelumnya berusaha menjaga jarak dari konflik tersebut. Namun insiden rudal yang mendekati wilayah udaranya menempatkan negara itu di posisi yang semakin dekat dengan garis ketegangan regional.