Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyatakan kesiapan negaranya untuk memasok rudal balistik kepada Iran di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menyusul serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.
Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan peringatan keras terhadap Israel. Kim menyebut satu rudal saja cukup untuk menghancurkan negara tersebut, dalam komentar yang mencerminkan sikap tegas Pyongyang terhadap konflik yang sedang berlangsung.
Pemerintah Korea Utara mengecam operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Pyongyang menilai serangan itu sebagai tindakan agresi ilegal sekaligus pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara.
Kecaman tersebut disampaikan ketika konflik di kawasan Timur Tengah terus meningkat, memicu kekhawatiran akan meluasnya konfrontasi antara Iran dan sekutunya dengan Washington serta Tel Aviv.
Menurut analisis yang dikutip The Diplomat pada Kamis (5/3/2026), nada keras dari Pyongyang ini muncul hanya dua pekan setelah Kim sempat memberi sinyal berbeda. Dalam kongres Partai Buruh Korea, ia mengisyaratkan kemungkinan membuka dialog dengan Presiden AS Donald Trump.
Namun serangan militer terhadap Iran tampaknya mengubah perhitungan politik Korea Utara. Pyongyang menilai operasi tersebut dapat diprediksi, mengingat apa yang mereka gambarkan sebagai perilaku hegemonik Washington di Timur Tengah.
Pemerintah Korea Utara juga menuduh AS menyalahgunakan kekuatan militernya dan menyatakan langkah itu merusak stabilitas global selama setahun terakhir.
Pernyataan Kim mengenai kemungkinan memasok rudal ke Iran muncul di tengah perhatian terhadap hubungan militer yang semakin erat antara Korea Utara, Iran, dan Rusia.
Selama beberapa waktu terakhir, kedua negara tersebut disebut sebagai pemasok penting berbagai peralatan militer bagi Rusia, termasuk rudal dan drone yang digunakan dalam perang di Ukraina.
Analisis The Diplomat menyebut konflik yang kini dihadapi Iran dapat memengaruhi rantai pasokan persenjataan bagi Rusia. Jika Teheran harus mengerahkan sebagian besar persenjataannya untuk menghadapi serangan AS dan Israel, kapasitasnya untuk memasok senjata ke Rusia dapat berkurang.
Kondisi itu berpotensi menciptakan ruang bagi Korea Utara untuk meningkatkan pengiriman peralatan militer ke Rusia.
Dalam skenario tersebut, ketergantungan Rusia terhadap persenjataan dari Pyongyang bisa meningkat, yang pada gilirannya memperkuat posisi Korea Utara dalam hubungan dengan Kremlin.
Perkembangan ini juga terjadi di tengah penguatan hubungan politik antara Rusia, Iran, dan Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir. Korea Utara menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Rusia pada Juni 2024. Iran kemudian menyepakati pakta pertahanan serupa dengan Moskwa pada Januari 2025.
Meski demikian, tanggapan Rusia terhadap serangan terhadap Iran sejauh ini terbatas pada kecaman diplomatik. Pemerintah Rusia menyatakan tetap berada dalam “komunikasi konstan” dengan para pemimpin Iran, tanpa mengumumkan dukungan militer langsung.
Sikap itu memicu spekulasi di kalangan analis bahwa Teheran saat ini menghadapi tekanan militer dari AS dan Israel tanpa dukungan keamanan yang nyata dari sekutu utamanya.

0Komentar