Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyampaikan pidato utama di Perwakilan Negara Bavaria, yang diselenggarakan oleh Konferensi Keamanan Munich (MSC) di Berlin, Jerman 11 Desember 2025. 


Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memperingatkan Iran berada “sangat dekat” dengan kemampuan yang dapat mengancam Eropa, seraya mendukung kampanye militer Amerika Serikat terhadap Teheran dan mendorong pembentukan koalisi maritim di Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan Rutte dalam wawancara program Face the Nation di CBS News pada 22 Maret. Ia menilai negosiasi yang berlarut berisiko mengulang kegagalan Barat dalam mencegah Korea Utara mengembangkan senjata nuklir.

“Kita telah melihat dengan Korea Utara, jika kita bernegosiasi terlalu lama, kita mungkin melewatkan momen di mana kita masih bisa menyelesaikan hal ini, dan sekarang Korea Utara memiliki kemampuan nuklir,” katanya. Iran yang bersenjata nuklir, menurut dia, akan menjadi “ancaman eksistensial bagi Israel, kawasan, Eropa, dan stabilitas dunia.”

Peringatan itu muncul di tengah eskalasi konflik antara AS dan Iran, termasuk laporan yang belum terverifikasi soal peluncuran dua rudal Iran ke pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia. 

NATO belum memastikan jenis senjata yang digunakan, namun Rutte menyebut Teheran “sangat dekat” memiliki rudal balistik yang mampu menjangkau ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma.

Di saat yang sama, ketegangan meningkat di jalur energi global. Iran menutup Selat Hormuz sejak 2 Maret, mengganggu arus sekitar 20 juta barel minyak per hari. Jalur ini merupakan salah satu rute paling vital bagi pasokan energi dunia.

Untuk merespons situasi tersebut, Rutte mengumumkan 22 negara telah bergabung dalam pernyataan bersama guna mengamankan pelayaran di selat itu. Inisiatif ini awalnya digagas oleh Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Jepang, dan Kanada, lalu diperluas dengan partisipasi negara lain seperti Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

Inggris, di bawah Perdana Menteri Keir Starmer, disebut memimpin koordinasi koalisi. Para perencana militer kini memetakan kebutuhan operasional, termasuk jenis aset, waktu pengerahan, dan lokasi penempatan.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya meredakan ketegangan dengan Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mengkritik NATO sebagai “macan kertas tanpa Amerika Serikat” dan menilai sekutu Eropa lamban merespons krisis.

Rutte meminta “sedikit pengertian” terhadap sekutu yang membutuhkan waktu untuk mempersiapkan respons, mengingat mereka tidak memiliki informasi awal terkait serangan ke Iran.

Di balik konsolidasi itu, perbedaan sikap sempat mencuat. Presiden Prancis Emmanuel Macron dilaporkan awalnya menolak pernyataan bersama sebelum akhirnya menyetujui setelah lobi intensif dari Rutte dan Starmer. Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menyuarakan keraguan.

Rutte menegaskan aliansi tetap solid, merujuk pada kesepakatan dalam KTT NATO di Den Haag yang mendorong peningkatan belanja pertahanan hingga 5% dari PDB negara anggota.