![]() |
| MIM-104 Patriot, sebuah sistem pertahanan udara dan peluru kendali (rudal) permukaan-ke-udara (SAM). | UNITED24MEDIA |
Sistem pertahanan udara NATO mencegat sebuah rudal balistik yang diluncurkan dari Iran menuju wilayah udara Turki pada Rabu (4/3), menurut Kementerian Pertahanan Turki. Insiden ini menjadi yang pertama kalinya negara anggota NATO secara langsung terseret dalam perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran yang telah memasuki hari keenam.
Rudal itu melintasi wilayah udara Irak dan Suriah sebelum dihancurkan di atas Laut Mediterania bagian timur. Puing dari rudal pencegat dilaporkan jatuh di Provinsi Hatay, Turki selatan, dekat perbatasan Suriah.
Hingga kini belum dipastikan target akhir rudal tersebut. Salah satu lokasi strategis yang menjadi sorotan adalah stasiun radar peringatan dini Kurecik di Turki timur, bagian dari sistem pertahanan NATO yang mampu mendeteksi peluncuran rudal dari Iran. Teheran sejak lama memprotes keberadaan instalasi itu dan menuduh data radar disalurkan ke Israel, tuduhan yang dibantah Ankara.
Sebelum insiden ini, Iran dinilai berhati-hati agar tidak menyasar Turki, meski terdapat sejumlah fasilitas militer AS di negara tersebut, termasuk Pangkalan Udara Incirlik dekat Adana. Para analis memperingatkan bahwa menyerang anggota NATO berisiko memicu konsekuensi luas.
Profesor Gonul Tol dari Middle East Institute di Washington mengatakan, "menyerang negara NATO seperti Turki akan menjadi taruhan yang lebih berisiko lagi bagi Iran".
Arif Keskin dari Universitas Ankara menilai langkah semacam itu "dapat mendorong konflik melampaui batas yang dapat dikelola" dan berisiko memicu mekanisme pertahanan kolektif NATO berdasarkan Pasal 5.
Pasal tersebut menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.
Insiden ini datang ketika posisi diplomatik Turki berada dalam tekanan. Presiden Recep Tayyip Erdogan sebelumnya mengecam ofensif AS-Israel sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional". Namun ia juga menyebut serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk sebagai "strategi yang sangat keliru".
Menteri Luar Negeri Hakan Fidan pada Selasa mengatakan pendekatan Iran yang membombardir negara-negara Arab secara membabi buta tampaknya didorong oleh logika "jika saya akan tenggelam, saya akan menenggelamkan seluruh kawasan".
Ankara sejauh ini menolak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk operasi militer melawan Iran dan berupaya memposisikan diri sebagai mediator. Pemerintah Turki juga sempat membantah laporan sebelumnya mengenai dugaan serangan di wilayahnya dan menyebutnya sebagai disinformasi.
Konflik ini bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terkoordinasi terhadap Iran dalam operasi militer bertajuk “Epic Fury” dan “Roaring Lion”. Serangan itu dilaporkan menghantam lebih dari 1.700 target di berbagai wilayah Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel, pangkalan-pangkalan AS, serta sejumlah negara Teluk, memperluas cakupan konflik yang kini menjangkau wilayah udara Turki.

0Komentar