![]() |
| Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara di sela-sela kongres Masyarakat Geografis Rusia di Moskow pada hari Kamis. | EPA |
Ketika serangan udara Amerika Serikat dan Israel terus memanas, posisi Rusia layak dicermati lebih dari sekadar retorika—negara yang paling keras mengecam operasi militer itu, namun tampaknya juga paling banyak memperoleh manfaat darinya.
Hubungan Moskwa dengan Teheran bukan hubungan biasa. Selama beberapa dekade, Rusia menjadi perisai Iran dari resolusi Dewan Keamanan PBB, pemasok persenjataan senilai miliaran dolar, dan mitra yang memposisikan keduanya dalam barisan yang sama melawan Barat.
Karena itu, kecaman Presiden Vladimir Putin atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang ia sebut sebagai "pelanggaran sinis terhadap semua norma moral manusia dan hukum internasional" secara retoris mudah dipahami.
Hanya saja, retorika dan kepentingan strategis tidak selalu berjalan ke arah yang sama.
Lonjakan harga minyak
Sebelum konflik meletus, harga minyak mentah Urals Rusia sempat merosot ke US$40 per barel pada akhir Februari, tekanan langsung dari sanksi Barat atas perang di Ukraina. Kremlin tidak punya banyak ruang bermanuver.
![]() |
| Sebuah pemandangan menunjukkan alat pengukur tekanan di dekat pompa minyak di pinggiran Almetyevsk, Republik Tatarstan, Rusia, pada 14 Juli 2025 | REUTERS |
Lalu harga patokan internasional Brent melonjak 13% dalam sehari, mencapai US$82 per barel. Minyak Urals ikut terdongkrak ke US$57.
Pergerakan itu bukan kebetulan. Rusia, Iran, dan Venezuela adalah tiga produsen terbesar minyak mentah berat di dunia — jenis minyak yang dibutuhkan kilang-kilang tertentu dan tidak mudah digantikan begitu saja.
Ekspor Venezuela sudah terhenti sejak pasukan khusus AS menangkap Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari. Kini Iran menyusul. Para pembeli yang selama ini bergantung pada minyak berat harus mencari sumber lain, dan Rusia adalah pilihan paling logis yang tersisa.
"Ini berarti minyak Rusia akan banyak dicari karena pembangunan kembali proses teknologi kilang minyak membutuhkan waktu lama dan biaya yang besar," kata Igar Tyshkevych, analis politik berbasis di Kyiv, kepada Al Jazeera. "Ini berarti diskon untuk minyak Rusia akan berubah."
Di tengah kondisi tersebut, Kremlin mungkin melihat peluang yang lebih jauh — menawarkan peningkatan pasokan sebagai kartu tawar dengan Washington, ditukar dengan pelonggaran sebagian sanksi.
Harga bensin yang turun di AS menjelang pemilihan paruh waktu November adalah insentif yang cukup nyata bagi pihak Amerika untuk mempertimbangkan tawaran semacam itu.
Putin dua kali diabaikan
Ada keuntungan lain yang lebih sulit diukur tapi potensial tidak kalah penting. Sejak Maret 2025, Putin telah dua kali menawarkan diri sebagai mediator dalam negosiasi AS-Iran soal program nuklir Teheran. Washington dua kali mengabaikannya.
Namun penolakan tidak berarti pintu tertutup selamanya.
"Hal itu telah dicoba beberapa kali selama konflik antara AS dan Iran," kata Tyshkevych. "Tidak selalu berhasil, tetapi Rusia bisa mencobanya."
Bagi Moskwa, posisi mediator bukan sekadar soal pengaruh diplomatik. Ia menawarkan sesuatu yang lebih dibutuhkan Rusia saat ini, yaitu legitimasi di panggung internasional, di tengah isolasi yang kian dalam akibat perang di Ukraina.
![]() |
| Serangan udara Israel terhadap Iran menyebabkan kerusakan parah di beberapa bagian Teheran. | SOBHAN FARAJVAN/ZUMA PRESS |
Sementara itu, konflik di Iran secara tidak langsung juga memberi Rusia ruang bernapas di front lain. Perhatian Trump beralih dari upaya mediasi perang Rusia-Ukraina yang kini memasuki tahun kelima. Perundingan sendiri sudah lama terhenti karena Moskow terus mendesak Ukraina meninggalkan wilayah Donetsk yang masih dikuasai Kyiv.
Menurut Tyshkevych, kedua pihak tengah bermain "siapa yang menyerah duluan" dan ketika Washington sibuk dengan Iran, Rusia mendapat beberapa minggu untuk menyusun agenda baru.
Di sisi lain, Ukraina kini menghadapi ancaman kekurangan rudal untuk sistem pertahanan udara Patriot. Rudal-rudal itu dialihkan ke sekutu Washington di Timur Tengah.
"Kami merasakan defisit yang serius sebelum perang, dan ada kemungkinan besar bahwa situasinya hanya akan semakin memburuk," kata Letnan Jenderal Ihor Romanenko, mantan wakil kepala Staf Umum militer Ukraina.
Dilema Kremlin
Meski demikian, gambaran ini tidak sepenuhnya menguntungkan Kremlin.
Ruslan Suleymanov, peneliti dari New Eurasian Strategies Center, lembaga think tank AS-Inggris, menyebut dilema nyata yang kini dihadapi Putin.
"Moskow harus memilih, dan bagi Putin, ini adalah pilihan yang sangat sulit karena di satu sisi, dia tidak ingin berselisih dengan Trump, tetapi di sisi lain, rezim di Teheran adalah salah satu dari sedikit mitra asing yang serius bagi Kremlin saat ini," katanya kepada Al Jazeera.
Kremlin juga selama ini berupaya menjaga kemitraan pragmatis dengan Israel yang kini berada di posisi berlawanan dengan Iran dalam konflik ini.
Dinamika ini menempatkan Moskow dalam posisi serba tanggung: terlalu terkait dengan Teheran untuk berdiam diri, namun terlalu berkepentingan dengan Washington dan Tel Aviv untuk benar-benar berpihak.
Ada pula dimensi citra yang tidak bisa diabaikan. Khamenei adalah sekutu ketiga yang lepas dari orbit Kremlin dalam waktu singkat.
Sebelumnya, Presiden Suriah Bashar al-Assad melarikan diri ke Moskwa pada November 2024 setelah kekuasaannya runtuh, lalu Maduro ditangkap dan dibawa ke AS. Bagi Rusia yang selama ini memproyeksikan diri sebagai pelindung sekutunya, deretan peristiwa itu berimplikasi pada persepsi kekuatan Moskow di mata dunia.
"Situasi ini merupakan pukulan bagi citra Putin yang sekali lagi menunjukkan bahwa dia tidak mampu benar-benar membantu para mitranya," kata Suleymanov.
Argumen Barat diperlemah
Perang Iran juga membuka celah argumen yang selama ini digunakan untuk mengecam Rusia. Alisher Ilkhamov, kepala lembaga think tank Central Asia Due Diligence yang berbasis di London, mengingatkan bahwa fondasi moral dan hukum yang dipakai Barat untuk mengecam agresi Rusia di Ukraina — pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional — kini bisa dipertanyakan balik oleh Kremlin.
Dalam konteks yang lebih luas, narasi itu berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan propaganda di dalam negeri maupun di kawasan.
Kremlin mungkin menggunakannya untuk membangun kesetaraan moral antara tindakan Barat dan tindakan Rusia sendiri, atau untuk merekrut pria usia tempur dari komunitas Muslim di bekas republik Soviet seperti Tajikistan —negara yang memiliki kedekatan budaya dan bahasa dengan Iran—agar bergabung dalam perang di Ukraina.
Jika konflik berlarut-larut dan memicu eksodus pengungsi Iran ke Eropa, kata Ilkhamov, partai-partai sayap kanan yang kerap bersimpati dengan Moskow berpeluang memperkuat pengaruh elektoral mereka di berbagai negara Barat.
Pertanyaan yang belum terjawab adalah seberapa jauh semua keuntungan itu bisa dipertahankan. Rusia tampak diuntungkan oleh situasi yang tidak ia ciptakan dan tidak ia kendalikan sepenuhnya, dan seberapa lama keuntungan itu bertahan kemungkinan besar bergantung pada seberapa panjang konflik berlangsung, dan seberapa jauh Washington akhirnya bersedia melibatkan Moskwa dalam proses yang menyusulnya.




0Komentar