Roket SLS NASA dan pesawat ruang angkasa Orion di Landasan Peluncuran 39B pada 1 Februari 2026. | NASA


Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menargetkan peluncuran misi Artemis II pada 1 April, menandai langkah pertama penerbangan berawak ke sekitar Bulan dalam lebih dari setengah abad sejak era Apollo.

Misi uji berdurasi sekitar 10 hari ini akan membawa empat astronaut mengelilingi sisi jauh Bulan menggunakan wahana Orion yang diluncurkan dengan roket Space Launch System (SLS). Penerbangan ini menjadi bagian penting dari program Artemis, yang dirancang untuk mengembalikan manusia ke permukaan Bulan dalam beberapa tahun ke depan.

Kru Artemis II: kiri, Christina Koch; belakang, Victor Glover (pilot); depan, Reid Wiseman (komandan); kanan, Jeremy Hansen. | NASA

Empat astronaut yang terlibat adalah Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, serta Christina Koch dan Jeremy Hansen sebagai spesialis misi. Mereka telah memasuki masa karantina di Houston sejak 18 Maret dan dijadwalkan menuju Kennedy Space Center beberapa hari sebelum peluncuran.

Penerbangan ini juga membawa dimensi historis. Glover akan menjadi orang berkulit berwarna pertama yang melakukan perjalanan ke Bulan, Koch perempuan pertama, dan Hansen astronaut non-Amerika pertama yang ikut dalam misi lunar.

Perjalanan menuju jadwal peluncuran awal April tidak sepenuhnya mulus. NASA sebelumnya membidik tanggal 6 Februari, namun kebocoran hidrogen cair saat wet dress rehearsal memaksa penundaan. 

Uji coba berikutnya berjalan lebih baik, tetapi masalah baru muncul pada sistem aliran helium di tahap atas roket.

Administrator NASA, Jared Isaacman, pada 21 Februari mengumumkan pembatalan target peluncuran Maret. Roket kemudian dikembalikan ke Vehicle Assembly Building untuk perbaikan sebelum akhirnya digeser kembali ke landasan peluncuran 39B pada 19 Maret.

Insinyur menemukan bahwa gangguan helium berasal dari segel yang menghambat aliran. Komponen tersebut kemudian didesain ulang. Manajer Program Exploration Ground Systems NASA, Shawn Quinn, menyebut perbaikan ini menjadi kunci kesiapan sistem menjelang peluncuran.

Dalam Flight Readiness Review pada 12 Maret, pejabat NASA Lori Glaze mengatakan tim berada di jalur yang tepat untuk peluncuran pada awal April. 

“Kami berada di jalur yang tepat untuk peluncuran paling cepat pada 1 April,” ujarnya. Jendela peluncuran akan berlangsung hingga 6 April, dengan waktu target pada 1 April pukul 18.24 EDT.

NASA juga memastikan kondisi kru dalam keadaan baik dan tidak ada masalah teknis signifikan yang tersisa menjelang peluncuran, sebagaimana disampaikan dalam pengarahan resmi pada 24 Maret.

Setelah lepas landas, Orion akan menghabiskan sekitar 24 jam di orbit tinggi Bumi sebelum melakukan manuver trans-lunar injection. Perjalanan menuju Bulan diperkirakan memakan waktu empat hari, sebelum kapsul mengitari sisi jauh Bulan pada jarak terdekat sekitar 4.000 mil.

Lintasan yang digunakan adalah free-return trajectory, memungkinkan wahana kembali ke Bumi tanpa manuver besar tambahan. Pendaratan dijadwalkan berlangsung di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego.

NASA menyebut misi ini akan membawa manusia lebih jauh dari Bumi dibandingkan pencapaian sebelumnya, melampaui rekor yang ditetapkan misi Apollo 13 pada 1970.

Artemis II difokuskan untuk menguji sistem pendukung kehidupan Orion, kemampuan kendali manual, serta komunikasi jarak jauh. Data dari misi ini akan menjadi dasar bagi Artemis III, yang saat ini ditargetkan pada pertengahan 2027 untuk pendaratan berawak di Bulan.