![]() |
| Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berbicara dalam sebuah wawancara dengan The Economist di Yerusalem, 8 Januari 2026. | Tangkapan layar: Youtube/The Economist |
Serangan udara Israel di Teheran dilaporkan menghantam markas besar Pasukan Quds milik Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), di tengah eskalasi perang antara Israel dan Iran yang kini memasuki minggu kedua.
Militer Israel menyatakan serangan itu merupakan bagian dari rangkaian operasi udara besar yang menargetkan infrastruktur militer Iran sejak akhir Februari. Target tersebut disebut sebagai pusat komando yang digunakan Pasukan Quds untuk mengoordinasikan jaringan kelompok proksi Iran di kawasan Timur Tengah.
Pasukan Quds dikenal sebagai unit elite IRGC yang menangani operasi luar negeri Iran, termasuk dukungan kepada kelompok seperti Hamas, Hezbollah, serta berbagai milisi sekutu di sejumlah negara Timur Tengah.
Juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin mengatakan kampanye udara yang dimulai pada 28 Februari telah melibatkan ribuan serangan terhadap berbagai target militer di Iran.
Ia menyebut sekitar 3.400 serangan telah dilakukan sejauh ini dengan sekitar 7.500 amunisi dijatuhkan ke sasaran militer.
“Pusat-pusat komando Pasukan Quds digunakan untuk merencanakan serangan terhadap Israel melalui proksi rezim Iran di Timur Tengah,” kata Defrin.
Markas yang disebut sebagai pusat koordinasi operasi Pasukan Quds di Teheran termasuk di antara puluhan fasilitas IRGC yang terkena gelombang serangan udara dalam beberapa hari terakhir.
Militer Israel juga mengklaim operasi tersebut secara signifikan melemahkan kemampuan pertahanan Iran.
Kepala Staf militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir sebelumnya menyatakan sebagian besar sistem pertahanan udara Iran telah dihancurkan selama kampanye ini. Ia menyebut sekitar 80% jaringan pertahanan udara Iran telah dilumpuhkan.
Laporan yang dikutip dari The Jerusalem Post menyebut militer Israel juga mengeklaim sekitar 75% peluncur rudal balistik Iran telah dihancurkan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan operasi militer tersebut memberi Israel kendali luas atas ruang udara Teheran.
“Kami memiliki rencana yang terorganisir dengan baik dengan banyak kejutan yang dirancang untuk melemahkan pemerintah,” kata Netanyahu dalam pidato yang disiarkan secara nasional. Ia juga menyerukan rakyat Iran untuk “merebut kebebasan mereka”.
Associated Press melaporkan ledakan kembali terlihat di langit Teheran pada Sabtu malam ketika Israel melancarkan serangan udara lanjutan yang digambarkan sebagai operasi ofensif komprehensif.
Serangan rudal Iran juga memicu sirene peringatan serangan udara di Yerusalem.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan negaranya akan mengambil “segala langkah yang diperlukan” untuk mempertahankan diri. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan Iran tidak akan menyerah dalam konflik yang terus berkembang ini.

0Komentar