Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengonfirmasi bahwa Iran kini mengizinkan kapal-kapal Malaysia melintas di Selat Hormuz di tengah penerapan sistem kontrol lalu lintas baru oleh Teheran.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis (26/3), Anwar menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian karena memberikan izin bagi kapal tanker minyak Malaysia dan para awaknya untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Kebijakan baru Iran mengubah dinamika salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Selat Hormuz selama ini menjadi rute bagi sekitar seperlima perdagangan minyak global.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, Iran menerapkan sistem izin selektif yang hanya membuka akses bagi kapal dari negara yang dianggap tidak bermusuhan.
Para analis pelayaran menyebut perubahan ini sebagai transformasi de facto dari jalur pelayaran internasional menjadi sistem yang dikendalikan langsung oleh Teheran. Sejumlah firma intelijen maritim bahkan menggambarkannya sebagai semacam “gerbang tol” geopolitik di salah satu titik strategis perdagangan energi dunia.
Bagaimana sistem pemeriksaan diterapkan
Analisis yang dipublikasikan Lloyd’s List Intelligence menyebut Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menerapkan rezim pemeriksaan terhadap kapal yang hendak melewati selat tersebut. Operator kapal diwajibkan berkoordinasi dengan perantara yang disetujui IRGC sebelum transit dilakukan.
Dalam proses itu, perusahaan pelayaran diminta menyerahkan dokumen lengkap, termasuk rantai kepemilikan kapal, manifes kargo, tujuan pelayaran, daftar awak kapal, serta nomor identifikasi IMO. Komando IRGC di Provinsi Hormozgan kemudian melakukan pemeriksaan sanksi dan apa yang oleh analis disebut sebagai “pemeriksaan geopolitik”.
Setelah proses verifikasi selesai, kapal akan menerima kode izin serta instruksi pengawalan untuk melintasi koridor tertentu di perairan Iran.
Sejak 13 Maret, sedikitnya 26 kapal tercatat melewati koridor yang berada di antara Pulau Qeshm dan Larak. Data tersebut menunjukkan bahwa jalur pelayaran standar hampir tidak lagi digunakan sejak 15 Maret.
Dalam beberapa kasus, kapal dilaporkan membayar biaya transit. Dua kapal disebut melakukan pembayaran menggunakan yuan Tiongkok, dengan satu laporan menyebut nilai biaya mencapai sekitar US$2 juta.
Seorang anggota parlemen Iran bahkan mengonfirmasi praktik penarikan biaya tersebut di televisi pemerintah. Ia menyebut pungutan itu sebagai cerminan dari apa yang ia gambarkan sebagai “kekuatan Iran”.
Diplomasi akses bagi negara tertentu
Pemerintah Iran secara paralel membuka jalur diplomasi dengan sejumlah negara yang masih bergantung pada jalur Hormuz untuk pasokan energi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan menggelar pembicaraan langsung dengan para pejabat Malaysia, Tiongkok, India, Korea Selatan, dan Mesir. Dalam komunikasi tersebut, Teheran menegaskan bahwa kapal dari negara “non-musuh” masih dapat melintas melalui koordinasi dengan otoritas Iran.
“kapal-kapal non-musuh dapat melintas dengan berkoordinasi bersama otoritas Iran,” kata Araghchi, seperti dikutip dalam laporan diplomatik yang beredar di kalangan pelayaran.
India menyatakan bahwa kapal-kapalnya tidak membayar biaya transit. Hal ini mengindikasikan bahwa akses mereka kemungkinan diperoleh melalui negosiasi diplomatik.
Dua kapal tanker India yang mengangkut lebih dari 92.000 ton gas cair telah berhasil melewati selat tersebut. Menurut laporan The Telegraph, kapal-kapal itu diperkirakan tiba di pelabuhan India antara 26 hingga 28 Maret.
Lalu lintas pelayaran anjlok
Meski jalur transit masih terbuka secara terbatas, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun tajam sepanjang Maret.
Data yang dikutip The New Arab menunjukkan jumlah kapal yang melintas merosot lebih dari 90%. Sebelum konflik memanas, rata-rata 50 hingga 70 kapal tanker minyak dan gas melewati selat itu setiap hari. Kini jumlahnya turun menjadi kurang dari 10 kapal per hari.
Penurunan tersebut menyebabkan sekitar 1.100 kapal menunggu di perairan Teluk Persia.
Di tengah penurunan arus pelayaran internasional, ekspor minyak Iran justru tetap berjalan. Produksi ekspor negara itu tercatat masih berada di atas 1,5 juta barel per hari.
Sebagian besar kapal yang kini melintas melalui koridor Iran juga memiliki keterkaitan langsung dengan negara tersebut. Sekitar 90% lalu lintas terbaru di selat itu dilaporkan berafiliasi dengan Iran atau mitra dagangnya.

0Komentar