Sebuah B-1 Lancer menunggu inspeksi pra-penerbangan di Pangkalan Angkatan Udara Ellsworth, SD, pada hari Selasa, 23 Mei 2006. | Senior Airman Michael B. Keller/Wikipedia 


Kerugian peralatan militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran diperkirakan mendekati US$3 miliar setelah hampir satu bulan konflik berlangsung. Nilai tersebut mencerminkan kerusakan tempur, kehilangan aset, serta biaya penggantian sistem militer berteknologi tinggi yang terus meningkat sejak permusuhan dimulai akhir Februari.

Estimasi itu disampaikan Elaine McCusker, mantan pejabat senior anggaran Pentagon yang kini memantau pembiayaan konflik untuk American Enterprise Institute. Ia memperkirakan total kerugian berada di kisaran US$1,4 miliar hingga US$2,9 miliar. Angka tertinggi mencakup kerusakan radar peringatan dini di Qatar yang nilainya saja mencapai sekitar US$1 miliar.

Perhitungan tersebut menyoroti dinamika utama dalam Operasi Epic Fury, ketika AS berhasil mempertahankan dominasi taktis di udara Iran namun menghadapi tekanan biaya operasi yang meningkat cepat.

Pesawat dan drone hilang

Sejak perang pecah pada 28 Februari, sedikitnya 16 pesawat militer AS hancur atau rusak berat, menurut laporan Bloomberg. Di antaranya terdapat 10 drone serang MQ-9 Reaper yang ditembak jatuh, sementara sejumlah pesawat lain rusak akibat serangan maupun kecelakaan operasional.

Kerugian paling fatal justru terjadi akibat insiden tembak kawan sendiri. Tiga jet tempur F-15E Strike Eagle ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait pada 1 Maret. Beberapa hari kemudian, tabrakan dua pesawat tanker KC-135 Stratotanker di atas Irak menewaskan enam awak.

Drone MQ-9 menjadi salah satu kerugian terbesar secara kuantitas. Lebih dari selusin unit hilang, termasuk delapan yang ditembak rudal Iran, tiga hancur di darat, dan satu dijatuhkan secara tidak sengaja oleh sekutu Teluk Persia. 

Setiap MQ-9 bernilai sedikitnya US$16 juta dan sudah tidak lagi diproduksi. Penggantinya, MQ-9B SkyGuardian, diperkirakan berharga sekitar US$30 juta per unit.

Satu jet tempur siluman F-35A juga dilaporkan melakukan pendaratan darurat pada 19 Maret setelah Iran mengklaim berhasil menyerangnya.

Radar mahal jadi sasaran

Serangan rudal Iran turut menyasar infrastruktur militer bernilai tinggi di kawasan Teluk. Sebuah radar AN/TPY-2 milik sistem pertahanan rudal THAAD di Yordania terkena serangan; sistem tersebut diperkirakan bernilai sekitar US$300 juta.

Iran juga merusak radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, salah satu fasilitas militer utama AS di kawasan. Radar itu diperkirakan bernilai sekitar US$1 miliar. Serangan tambahan dilaporkan mengenai radar, jaringan komunikasi, dan sistem pertahanan udara di Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Kuwait, serta Arab Saudi.

Ketimpangan biaya amunisi

Analisis terpisah dari Royal United Services Institute (RUSI) yang dirilis 24 Maret menunjukkan tekanan biaya yang lebih luas di medan perang. Dalam 16 hari pertama konflik, pasukan koalisi menembakkan 11.294 amunisi dengan estimasi biaya mencapai US$26 miliar.

Biaya penggantian senjata tersebut bahkan dapat melampaui US$50 miliar karena meningkatnya harga produksi dalam kondisi industri masa perang, yang oleh RUSI disebut sebagai “wartime industrial speed premium”.

Ketimpangan paling mencolok terlihat pada sistem pertahanan udara. Pasukan koalisi menembakkan sekitar 509.500 peluru dari sistem pertahanan jarak dekat berbasis meriam dengan biaya sekitar US$25 juta. Namun mereka juga menghabiskan sedikitnya US$19 miliar untuk rudal pencegat, sering kali digunakan melawan drone dan roket berbiaya jauh lebih murah.

Penasihat militer Ukraina yang ditempatkan bersama pasukan koalisi menilai pendekatan tersebut tidak efisien. 

Mereka menggambarkan strategi pertahanan udara sebagai “pemborosan amunisi yang tidak masuk akal,” menurut laporan RUSI, seraya menyatakan terkejut karena prosedur pencegatan semacam itu telah lama diperbaiki Ukraina melalui pengalaman perang mereka.

Di tengah meningkatnya kerugian dan konsumsi amunisi, Departemen Pertahanan AS telah meminta tambahan anggaran sebesar US$200 miliar kepada Kongres untuk melanjutkan operasi militer yang sedang berlangsung.