Sejumlah kapal berlayar di Terusan Panama, 23 Maret 2015. | REUTERS/CARLOS JASSO


Ketegangan geopolitik di sekitar Terusan Panama meningkat setelah lonjakan penahanan kapal berbendera Panama oleh otoritas China memicu kekhawatiran gangguan perdagangan global. Komisi Maritim Federal Amerika Serikat (Federal Maritime Commission/FMC) menyatakan tengah memantau situasi tersebut secara intensif karena berpotensi berdampak langsung pada arus logistik internasional dan perdagangan AS.

Pengawasan ini muncul setelah Mahkamah Agung Panama pada akhir Januari membatalkan kerangka hukum konsesi pelabuhan yang sejak 1997 dipegang perusahaan Hong Kong, CK Hutchison. 

Putusan tersebut mencabut hak operasi perusahaan atas terminal Balboa dan Cristobal—dua pelabuhan strategis yang mengapit sisi Pasifik dan Atlantik Terusan Panama, jalur yang menopang sekitar 5% perdagangan maritim global.

Keputusan pengadilan itu terjadi di tengah tekanan diplomatik Washington yang berupaya membatasi pengaruh China di infrastruktur strategis kawasan Amerika Latin. Pemerintah Panama kemudian menunjuk Maersk APM Terminals dan Terminal Investment Limited milik Mediterranean Shipping Company (MSC) sebagai operator sementara melalui kontrak 18 bulan, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 27 Maret 2026.

Langkah tersebut segera diikuti peningkatan inspeksi terhadap kapal berbendera Panama di pelabuhan China. Ketua FMC Laura DiBella mengatakan jumlah penahanan kapal telah melonjak jauh di atas pola historis. Data intelijen maritim Lloyd’s List Intelligence mencatat hampir 70 kapal ditahan sejak 8 Maret

Menurut DiBella, tindakan itu tampak berkaitan langsung dengan perubahan pengelola pelabuhan di Panama. 

"Inspeksi intensif ini dilakukan di bawah arahan informal dan tampaknya ditujukan untuk menghukum Panama setelah pengalihan aset pelabuhan milik Hutchison," ujarnya dalam pernyataan resmi.

FMC menilai situasi tersebut berisiko meluas ke sektor perdagangan AS karena kapal berbendera Panama memegang porsi besar pengangkutan peti kemas menuju dan dari negara itu. 

"Mengingat kapal-kapal berbendera Panama mengangkut porsi yang sangat berarti dari perdagangan peti kemas AS, tindakan ini dapat mengakibatkan konsekuensi komersial dan strategis yang signifikan bagi pelayaran AS," kata DiBella. 

Ia menambahkan lembaganya memiliki kewenangan hukum untuk menyelidiki praktik pemerintah asing yang dinilai merugikan perdagangan AS.

Di Beijing, Kementerian Transportasi China dilaporkan memanggil perwakilan Maersk dan MSC untuk pembicaraan tingkat tinggi menyusul perubahan operator pelabuhan tersebut.

CK Hutchison, yang mengelola terminal Panama hampir tiga dekade, menolak keputusan pemerintah Panama dan menuduh telah terjadi penyitaan aset secara ilegal. Perusahaan itu mengajukan international arbitration dengan tuntutan ganti rugi lebih dari US$2 miliar.

Perselisihan ini juga mengguncang rencana perusahaan menjual saham mayoritas bisnis pelabuhan globalnya senilai US$23 miliar kepada konsorsium yang dipimpin BlackRock bersama MSC, memperlihatkan bagaimana sengketa hukum lokal di Panama kini berkelindan dengan persaingan strategis kekuatan besar dalam perdagangan maritim dunia.