![]() |
| Kapal tempur pesisir (littoral combat ship) kelas Independence milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Gabrielle Giffords (LCS-10). | SHERWYND KESSELER |
Dua kapal perang Amerika Serikat yang dirancang untuk menghadapi ancaman ranjau laut terlihat berlabuh di Malaysia, memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan militer AS di Teluk Persia ketika ketegangan dengan Iran meningkat dan Selat Hormuz dilaporkan mulai dipasangi ranjau.
Kapal tempur pesisir USS Tulsa (LCS-16) dan USS Santa Barbara (LCS-32) difoto pada 15 Maret di Terminal Kontainer Butterworth Utara di Pelabuhan Penang, Malaysia. Kedua kapal kelas Independence itu dilengkapi modul penanggulangan ranjau yang dirancang untuk mendeteksi dan menetralkan ranjau laut.
Kehadiran mereka di Asia Tenggara—sekitar 3.500 mil dari pangkalan operasionalnya di Bahrain—memicu spekulasi mengenai kesiapan armada AS di Timur Tengah.
![]() |
| Kedua kapal perang AS dilengkapi dengan modul kontra-ranjau, yang bisa sangat penting untuk membersihkan Selat Hormuz jika Iran berhasil meletakkan bahan peledaknya di jalur air. |
Wartawan pertahanan Mike Yeo termasuk yang pertama menyoroti penampakan tersebut di media sosial, mencatat bahwa kapal-kapal itu “ditugaskan secara rotasi ke Timur Tengah dan dimaksudkan untuk berfungsi sebagai platform penanggulangan ranjau Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.”
Ketiadaan kapal di Bahrain
Laporan rinci dari The War Zone menyebut baik Komando Pusat AS maupun Armada Kelima Angkatan Laut belum memberikan penjelasan mengapa kapal-kapal itu berada jauh dari wilayah operasi.
Citra satelit yang dianalisis media tersebut menunjukkan tidak ada kapal perang AS di pelabuhan Bahrain sejak 23 Februari. Waktu itu hanya lima hari sebelum Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer bersama terhadap Iran pada 28 Februari.
Memindahkan kapal dari Bahrain sebelum konflik dianggap langkah pencegahan yang masuk akal. Pangkalan tersebut dinilai rentan terhadap serangan rudal dan drone Iran. Namun keputusan mengirim kapal ke arah timur—alih-alih ke pelabuhan yang lebih dekat dengan Teluk—belum dijelaskan oleh otoritas militer AS.
Satu kapal lain dengan konfigurasi serupa, USS Canberra (LCS-30), sebelumnya ditempatkan di Bahrain pada Mei 2025 sebagai kapal pertama dengan paket penanggulangan ranjau penuh. Keberadaan terbarunya saat ini tidak diketahui.
Empat kapal pemburu ranjau kelas Avenger yang sebelumnya menjadi tulang punggung operasi pembersihan ranjau AS di kawasan telah dinonaktifkan dan meninggalkan wilayah itu pada Januari.
Ancaman ranjau di Selat Hormuz
Situasi ini muncul ketika laporan intelijen AS menyebut Iran mulai menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
CNN pada 10 Maret mengutip penilaian intelijen AS yang memperkirakan penempatan awal mencapai beberapa lusin ranjau. The New York Times melaporkan bahwa setelah militer AS menghancurkan 16 kapal pemasang ranjau Iran berukuran besar, Teheran beralih menggunakan kapal-kapal kecil milik Islamic Revolutionary Guard Corps.
Kapal-kapal kecil tersebut dapat dikerahkan dalam jumlah ratusan unit dan lebih sulit dilacak di perairan sempit Teluk.
Menurut Defense Intelligence Agency, Iran diperkirakan memiliki lebih dari 5.000 ranjau laut dalam persediaan militernya.
Masalah pada sistem penyapu ranjau
Selain posisi kapal, kemampuan teknologi juga menjadi sorotan. Dokumen pengarahan Angkatan Laut AS dari Mei 2025 menguraikan berbagai masalah pada modul penanggulangan ranjau kapal LCS.
Laporan itu menyebut sistem sonar terkadang gagal mendeteksi ancaman, sementara kendaraan tanpa awak yang digunakan untuk pembersihan ranjau membutuhkan waktu persiapan berjam-jam sebelum setiap misi.
Kapal pemburu ranjau kelas Avenger yang digantikan oleh LCS sebelumnya dirancang khusus untuk perang ranjau. Lambungnya terbuat dari kayu berlapis fiberglass guna mengurangi jejak magnetik yang dapat memicu ranjau laut—fitur yang tidak dimiliki kapal LCS berlambung logam.
Pejabat AS juga mengatakan pengawalan kapal dagang oleh armada perang kemungkinan belum akan dimulai dalam beberapa minggu ke depan, meskipun ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz meningkat.


0Komentar