![]() |
| momen pertemuan diplomatik antara mantan Presiden AS Donald Trump dan Sanae Takaichi dari Jepang. | NDTV |
Jepang bersiap bergabung dalam program pertahanan rudal “Golden Dome” yang dikembangkan Amerika Serikat, sebuah proyek ambisius untuk menghadapi ancaman senjata hipersonik dari negara pesaing. Rencana itu diperkirakan akan diumumkan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi saat bertemu Presiden AS Donald Trump di Washington pada 19 Maret.
Laporan harian Yomiuri Shimbun, yang mengutip sumber pemerintah Jepang, menyebut Tokyo berencana ikut serta dalam pengembangan teknologi utama sistem tersebut.
Kerja sama itu diperkirakan mencakup pembangunan jaringan satelit serta pengembangan rudal pencegat bersama antara Jepang dan AS.
Program Golden Dome diumumkan Trump pada 2025 dengan estimasi biaya sekitar US$175 miliar. Sistem ini dirancang memperluas jaringan pertahanan rudal yang ada dengan menambahkan sensor dan pencegat berbasis luar angkasa yang mampu mendeteksi dan menanggapi ancaman dari orbit.
Washington menilai sistem tersebut penting untuk menghadapi kemajuan teknologi militer dari Tiongkok dan Rusia, khususnya kendaraan luncur hipersonik. Senjata jenis ini dapat melaju dengan kecepatan minimal Mach 5 dan bermanuver di atmosfer, sehingga jauh lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan rudal konvensional.
Kepala Pentagon Pete Hegseth menggambarkan proyek itu sebagai sistem yang “secara bertahap akan melindungi negara kita dari serangan udara dari musuh mana pun”.
Namun sejumlah analis mempertanyakan kelayakan jadwal dan biaya proyek tersebut. Congressional Budget Office memperkirakan komponen berbasis luar angkasa saja dapat menelan biaya hingga US$542 miliar selama 20 tahun.
Rincian kontribusi Jepang dalam proyek ini belum sepenuhnya dipublikasikan. Harian Korea Selatan Chosun Ilbo melaporkan Tokyo kemungkinan akan berperan dalam pembangunan konstelasi satelit serta pengembangan bersama rudal pencegat.
Kedua negara sebelumnya sudah bekerja sama dalam proyek rudal Glide Phase Intercept sejak 2023. Sistem ini dirancang khusus untuk mencegat kendaraan luncur hipersonik pada fase penerbangannya di atmosfer.
Kerja sama pertahanan itu juga muncul di tengah kebutuhan Washington untuk mengisi kembali stok persenjataan.
Reuters melaporkan bahwa Trump kemungkinan akan meminta Jepang membantu memproduksi atau mengembangkan rudal tambahan bagi AS, yang persediaannya berkurang akibat konflik yang melibatkan Iran serta dukungan militer berkelanjutan kepada Ukraina.
Tokyo masih mempertimbangkan bagaimana merespons kemungkinan permintaan tersebut.
Langkah Jepang untuk memperluas kerja sama militer dengan AS terjadi bersamaan dengan perubahan kebijakan pertahanan negara itu dalam beberapa tahun terakhir.
Pada November 2025, Jepang mengirimkan ekspor pertama rudal pencegat Patriot Advanced Capability-3 yang diproduksi di dalam negeri ke AS—sebuah langkah yang sebelumnya sulit dilakukan karena pembatasan lama terhadap ekspor senjata mematikan.
Pemerintah Jepang juga meningkatkan belanja militernya secara signifikan. Tokyo menargetkan anggaran pertahanan setara 2% dari PDB dan menyetujui anggaran rekor sekitar sembilan triliun yen atau sekitar US$56,5 miliar untuk tahun fiskal yang dimulai April.
Pertemuan puncak di Washington berlangsung saat Takaichi, perdana menteri perempuan pertama Jepang, berupaya memperkuat aliansi keamanan dengan AS di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, termasuk hubungan yang semakin tegang dengan Tiongkok serta ancaman program nuklir Korea Utara.

0Komentar