![]() |
| Pemimpin Hamas Khaled Mashaal berbicara pada hari kedua Forum Al Jazeera ke-17 yang diadakan di Doha, Qatar pada 8 Februari 2026. | ANADOLU |
Hamas pada Sabtu (15/3) meminta Iran menghindari serangan terhadap negara-negara Teluk, langkah yang menandai pertama kalinya kelompok Palestina tersebut secara terbuka mengambil jarak dari kampanye balasan Teheran sejak perang regional pecah pada akhir Februari.
Dalam pernyataan resminya, Hamas tetap menegaskan dukungan terhadap hak Iran untuk membalas serangan Amerika Serikat dan Israel. Namun kelompok itu juga menyerukan agar Teheran tidak menargetkan negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
"Sambil menegaskan hak Republik Islam Iran untuk merespons agresi ini dengan segala cara yang tersedia sesuai dengan norma dan hukum internasional, gerakan ini meminta saudara-saudara di Iran untuk menghindari penargetan negara-negara tetangga," kata Hamas dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Agence France-Presse.
Kelompok tersebut juga mendesak komunitas internasional untuk segera menghentikan perang yang mereka sebut sebagai "agresi Amerika-Zionis" terhadap Iran.
Tekanan dari negara Teluk
Pernyataan itu muncul setelah hampir dua pekan Hamas menghindari kritik terhadap serangan Iran ke sejumlah negara Teluk.
Ketika operasi militer AS-Israel yang dinamai Operation Epic Fury dimulai pada 28 Februari, Hamas langsung mengecam serangan tersebut tetapi tidak menyinggung serangan rudal dan drone Iran ke Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Sikap itu memicu ketegangan dengan Qatar, yang sejak 2012 menjadi tuan rumah kantor politik dan sejumlah pemimpin senior Hamas.
Menurut laporan Jewish Insider, pemerintah Qatar sempat memberi tahu pejabat AS bahwa mereka siap mengusir para pemimpin Hamas setelah kelompok itu menolak permintaan Doha untuk secara terbuka mengecam serangan Iran ke wilayah Teluk.
Perdana menteri Qatar sebelumnya menyebut serangan Iran sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap kedaulatan negara dan menolak klaim Teheran bahwa serangan itu hanya menargetkan fasilitas militer AS.
Para analis menilai ancaman pengusiran itu bisa berdampak besar bagi Hamas. Steven Cook, peneliti senior di Council on Foreign Relations, mengatakan menjadi tuan rumah Hamas telah lama menjadi alat pengaruh regional bagi Qatar.
"Menjadi tuan rumah Hamas telah menjadi instrumen kekuatan regional dan pengaruh global Qatar," ujar Cook kepada Jewish Insider.
Namun sejumlah pengamat menilai situasi kali ini berbeda dari ketegangan sebelumnya.
"Tingkat pengkhianatan dalam menghadapi agresi militer Iran berada pada level yang berbeda dari isu-isu sebelumnya," kata Edmond Fitton-Brown, mantan diplomat Inggris yang kini menjadi peneliti senior di Foundation for Defense of Democracies.
Serangan lintas Teluk
Perang yang kini memasuki hari ke-15 itu telah memperluas ketegangan di kawasan. Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke beberapa negara Teluk yang selama bertahun-tahun menjaga hubungan diplomatik dengan Teheran.
Serangan tersebut memicu kebakaran di kilang minyak terbesar Arab Saudi, merusak sejumlah bandara di kawasan, serta menargetkan fasilitas gas Ras Laffan di Qatar.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat meminta maaf kepada negara-negara tetangga pada 7 Maret. Namun serangan dilaporkan tetap berlanjut setelah itu.
Teheran beralasan bahwa keberadaan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk membuat wilayah tersebut menjadi target yang sah. Negara-negara anggota Gulf Cooperation Council menolak argumen itu dan secara kolektif mengecam serangan Iran sebagai "keji" serta "pelanggaran serius" terhadap kedaulatan mereka.
Dalam konteks itu, perubahan sikap Hamas dipandang sebagai upaya menjaga hubungan dengan negara-negara Arab Teluk yang selama ini menjadi sumber dukungan politik dan finansial bagi kelompok tersebut.
Sejumlah analis mengatakan jika Qatar benar-benar memutuskan mengusir pimpinan Hamas, Turki kemungkinan menjadi tujuan alternatif bagi mereka.

0Komentar