Rudal balistik Shaheen-III milik Pakistan yang sedang dipamerkan dalam sebuah parade militer. | HINDUSTAN TIMES


Penilaian Ancaman Tahunan 2026 yang dirilis komunitas intelijen Amerika Serikat menempatkan Pakistan dalam satu kelompok dengan Rusia, China, Korea Utara, dan Iran — negara-negara yang program rudalnya dinilai berpotensi menjangkau wilayah AS.

Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard menyampaikan penilaian itu di hadapan Komite Intelijen Senat pada Rabu. Ia menyebut kelima negara itu meneliti dan mengembangkan serangkaian sistem pengiriman rudal dengan muatan nuklir dan konvensional yang menjangkau benua Amerika.

Khusus soal Pakistan, Gabbard mengatakan "pengembangan rudal balistik jarak jauh Pakistan berpotensi mencakup ICBM dengan jangkauan yang mampu menyerang tanah air".

Dokumen penilaian tertulis melangkah lebih jauh. Pakistan disebut terus mengembangkan teknologi rudal yang semakin canggih yang, jika tren berlanjut, akan menghasilkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mengancam AS. 

Laporan yang sama juga memperingatkan bahwa hubungan India-Pakistan tetap menjadi risiko konflik nuklir, dan memproyeksikan jumlah rudal yang mengancam wilayah AS bisa melonjak dari sekitar 3.000 saat ini menjadi setidaknya 16.000 pada 2035.

Jarak yang masih jauh

Para ahli mempertanyakan dasar penilaian itu setidaknya dalam konteks waktu dan kemampuan aktual Pakistan saat ini. Rudal operasional jarak jauh Pakistan, Shaheen-III, diperkirakan berjangkauan sekitar 2.750 km, cukup untuk menjangkau seluruh India. 

ICBM secara umum didefinisikan sebagai rudal dengan jangkauan lebih dari 5.500 km — ambang yang belum dicapai Pakistan. 

Bahkan jika Pakistan berhasil membangun ICBM jarak pendek pun, jarak antara kedua negara melampaui 11.200 km. Hanya Rusia, AS, Prancis, China, dan Inggris yang saat ini mengoperasikan ICBM dengan kemampuan sejauh itu.

Gabbard sendiri, dalam pernyataannya, membingkai kekhawatiran itu sebagai potensi masa depan, bukan ancaman yang sudah ada. 

Penilaian itu sejalan dengan keterangan pejabat senior AS yang disampaikan secara anonim pada Januari 2025, yang memperkirakan kemampuan Pakistan untuk menerjunkan rudal balistik jarak jauh masih beberapa tahun hingga satu dekade lagi.

Tughral Yamin, mantan brigadir militer dan spesialis pengendalian senjata, mengatakan pernyataan semacam ini bukan hal baru. 

"Secara resmi, Pakistan telah membalas retorika semacam itu dengan menunjukkan bahwa penangkalan Pakistan baik konvensional maupun nuklir dimaksudkan untuk melawan India. Bahkan dengan India, Pakistan mencari perdamaian dengan persyaratan terhormat dan bukan karena AS memilih untuk mengidentifikasi Pakistan adalah ancaman," katanya.

Pakistan menolak framing AS

Islamabad belum mengeluarkan respons resmi atas kesaksian Gabbard. Namun sejumlah mantan pejabat senior Pakistan bereaksi cepat.

Jalil Abbas Jilani, mantan duta besar Pakistan untuk Washington, menulis di X bahwa pernyataan Gabbard tidak didasarkan pada realitas strategis. 

"Doktrin nuklir Pakistan khusus India, bertujuan untuk mempertahankan pencegahan yang kredibel di Asia Selatan, bukan memproyeksikan kekuatan secara global," tulisnya.

Abdul Basit, mantan komisaris tinggi Pakistan untuk India, menyebut klaim itu mementingkan diri sendiri dan tidak berdasar. 

"Program nuklir Pakistan selalu spesifik India," tulisnya di media sosial.

Rabia Akhtar, sarjana keamanan nuklir yang juga direktur di Pusat Penelitian Keamanan, Strategi dan Kebijakan Universitas Lahore, menilai penilaian Gabbard mencerminkan kelemahan dalam penilaian ancaman AS.

Ia menegaskan bahwa bahkan sistem jarak terjauhnya dikalibrasi untuk menyangkal kedalaman strategis India, bukan memproyeksikan kekuatan di luar kawasan.

Pakistan juga menuding Washington menerapkan standar ganda — menghukum Islamabad atas pengembangan rudal, sementara memperdalam kerja sama strategis dengan India, termasuk transfer teknologi pertahanan canggih. 

Sorotan juga diarahkan pada diabaikannya program rudal jarak jauh India, termasuk Agni-V dengan jangkauan lebih dari 5.000 km dan ICBM Agni-VI yang sedang dikembangkan dengan jangkauan proyeksi hingga 12.000 km.

Perdebatan soal niat

Di luar pertanyaan teknis, ada perdebatan yang lebih dalam soal untuk apa sebenarnya Pakistan mengembangkan kemampuan jarak jauh itu.

Dalam artikel di Foreign Affairs edisi Juni 2025, Vipin Narang, mantan pejabat Departemen Pertahanan AS, dan Pranay Vaddi, mantan pejabat National Security Council, menulis bahwa badan intelijen AS percaya Pakistan sedang mengembangkan rudal yang dapat menjangkau benua Amerika. 

Mereka berpendapat motivasinya bukan India melainkan untuk menghalangi Washington dari intervensi dalam konflik India-Pakistan di masa depan.

Christopher Clary, ilmuwan politik di University at Albany, membaca kesaksian Gabbard dari sudut yang berbeda. Ia menilai pernyataan itu mengklarifikasi sikap pemerintahan Trump yang sebelumnya tidak jelas — apakah Washington memang masih menganggap dugaan pengembangan ICBM Pakistan sebagai masalah aktif, atau sudah menganggapnya selesai. 

"Tetapi komunitas intelijen AS menilai tampaknya bahwa masalah ini tetap ada," tulisnya di X. (Al Jazeera/Reuters)