Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah kota di Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu eskalasi militer di Timur Tengah dan mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak ke US$73 per barel pada Jumat, level tertinggi sejak Juli, di tengah keputusan Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.
Operasi militer yang diberi sandi Roaring Lion oleh Israel dan Epic Fury oleh AS itu menyasar target di Teheran, Isfahan, Qom, dan beberapa kota lain. Media pemerintah Iran melaporkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut.
Tak lama setelahnya, Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan puluhan rudal balistik dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Serangan balasan itu memperluas ketegangan ke sejumlah negara Teluk yang selama ini menjadi lokasi instalasi militer AS.
Penutupan Selat Hormuz menambah tekanan di pasar komoditas. Jalur sempit itu menampung lebih dari 20% perdagangan minyak global. Sejak Sabtu, pengiriman minyak, gas, dan komoditas lain dilaporkan terhenti setelah Iran menyatakan wilayah tersebut ditutup untuk navigasi, menurut laporan Reuters.
Di tengah situasi itu, OPEC+ dijadwalkan membahas kemungkinan peningkatan produksi hingga 411.000 barel per hari dalam pertemuan Minggu (1/3), lebih tinggi dari rencana awal 137.000 barel per hari. Langkah ini dinilai sebagai upaya meredam lonjakan harga akibat gangguan pasokan.
Kenaikan harga energi memantik kekhawatiran di Indonesia yang masih mengandalkan impor bahan bakar. Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama.
"Harga US$100 per barel akan memasuki zona tinggi dan rekor," ujarnya kepada ANTARA.
Ekonom Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai dampak langsung akan terasa pada harga bahan bakar nonsubsidi.
"Kalau serangannya ke Iran, itu pasti akan mempengaruhi harga minyak secara signifikan," katanya kepada Kompas.com. Indonesia mengimpor sekitar 1,2 juta barel BBM per hari, membuat biaya energi domestik sensitif terhadap gejolak global.
Dari sisi pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyebut ketegangan ini berpotensi mengganggu rantai pasok dan stabilitas pasar keuangan regional.
"Dampaknya pasti terasa, termasuk ke kawasan kita di Asia Tenggara," ujarnya.
Gangguan logistik juga dilaporkan terjadi pada rute penerbangan dan pelayaran dari Timur Tengah. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut arus transportasi antara kawasan tersebut dan Indonesia terhenti, termasuk bagi puluhan ribu jemaah umrah yang belum bisa kembali.
Di tengah eskalasi, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan penyesalan atas gagalnya perundingan antara AS dan Iran. Pemerintah menyampaikan kesiapan Presiden Indonesia untuk melakukan mediasi ke Teheran apabila disetujui kedua belah pihak.

0Komentar