![]() |
| Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. |
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan serangkaian pembicaraan telepon dengan sejumlah pemimpin dunia pada Minggu (1/3), di tengah eskalasi militer cepat antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel. Langkah ini menempatkan Ankara di tengah pusaran krisis yang meluas di Timur Tengah.
Menurut laporan Yeni Safak, Erdogan berbicara terpisah dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas perkembangan terkini di Iran dan negara-negara Teluk. Direktur Komunikasi Turki Burhanettin Duran menyebut kedua pemimpin menyoroti “situasi terkini dan perkembangan terbaru di Iran dan negara-negara Teluk”.
Pada hari yang sama, Erdogan juga menghubungi Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani. Kantor berita Anadolu Agency melaporkan Erdogan menyampaikan belasungkawa atas serangan Iran ke wilayah mereka dan menerima pembaruan mengenai kondisi di lapangan.
Upaya diplomasi itu berlangsung sehari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Qom. Pentagon menamai operasi tersebut “Operation Epic Fury”, sedangkan pihak Israel menyebutnya “Roaring Lion”.
Serangan itu terjadi ketika negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran masih berjalan dengan mediasi Oman. Putaran pembicaraan terbaru di Jenewa berakhir dua hari sebelum operasi militer dilancarkan.
Iran merespons dengan menembakkan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Sejumlah negara melaporkan rudal Iran memasuki wilayah udara mereka, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Arab Saudi, seperti diberitakan Reuters.
Uni Emirat Arab menyatakan satu warga sipil tewas di Abu Dhabi akibat serpihan pencegat rudal. Bahrain mengatakan Iran menargetkan markas Armada Kelima AS yang bermarkas di negaranya. Qatar melaporkan berhasil mencegat sedikitnya dua gelombang serangan rudal.
Sehari sebelumnya, Erdogan menyampaikan sikap yang terukur. Dalam pernyataan yang dikutip Agence France-Presse, ia mengatakan dirinya “sangat terganggu” oleh serangan AS-Israel terhadap Iran. Namun ia juga mengecam serangan balasan Teheran ke negara-negara Teluk sebagai “tidak dapat diterima, terlepas dari alasannya”.
Ia memperingatkan kawasan berisiko “terseret ke dalam lingkaran api” jika tidak ada pengekangan dan diplomasi.
Diplomasi Ankara juga digerakkan melalui jalur kementerian luar negeri. Menteri Luar Negeri Hakan Fidan melakukan pembicaraan telepon dengan mitranya di Iran, Irak, Arab Saudi, Qatar, Suriah, Mesir, dan Indonesia untuk membahas langkah-langkah meredakan kekerasan.
Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan negaranya “siap memberikan dukungan yang diperlukan dalam mediasi”, sembari menyerukan semua pihak segera menghentikan serangan.
Krisis ini menguji posisi Turki sebagai anggota NATO sekaligus kekuatan regional yang memiliki hubungan dengan Teheran, negara-negara Teluk, dan Washington. Dalam situasi yang kian cepat berubah, Ankara tampak berupaya menjaga jalur komunikasi tetap terbuka di semua sisi.

0Komentar