Kapal tanker Luojiashan terlihat sedang lego jangkar di Muscat, Oman, pada 7 Maret 2026. Kapal ini menjadi salah satu tanker yang tertahan di kawasan Teluk di tengah ketegangan geopolitik dan gangguan pelayaran di sekitar Selat Hormuz. | REUTERS/BONNOIT TESSIER


Iran menawarkan jalur pelayaran “aman” bagi negara-negara BRICS untuk melintasi Selat Hormuz, di tengah pembatasan lalu lintas maritim yang diberlakukan Teheran setelah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Duta Besar Iran untuk Afrika Selatan, Mansour Shakib Mehr, mengatakan kapal dari negara “sahabat” tetap diizinkan melintas, termasuk dari China dan India, sementara kapal yang terkait dengan AS dan Israel dibatasi. Ia menyampaikan tawaran tersebut di Cape Town, seraya mendorong solidaritas di antara anggota BRICS.

“Jika Republik Afrika Selatan membutuhkan tindakan seperti itu, kami secara positif dan kuat mendukung ide ini dan kami mampu bekerja sama dengan mereka untuk melewatkan kargo dan kapal tanker mereka,” ujarnya kepada wartawan, seperti dilaporkan AFP.

Selat strategis dalam tekanan

Langkah ini muncul setelah serangan terkoordinasi AS dan Israel terhadap target militer dan fasilitas nuklir Iran pada 28 Februari. Serangan itu diikuti balasan Teheran berupa rudal dan drone ke pangkalan AS dan wilayah Israel.

Korps Garda Revolusi Islam kemudian membatasi lalu lintas di Selat Hormuz—jalur selebar sekitar 33 mil yang menjadi rute bagi hampir seperlima pasokan minyak dunia.

Sejak konflik berlangsung, sedikitnya 17 kapal dilaporkan diserang di kawasan tersebut. Lalu lintas tanker sempat anjlok sekitar 70%, sementara ratusan kapal tertahan di Teluk Persia.

Dalam praktiknya, Iran menerapkan kebijakan selektif: kapal dari sejumlah negara seperti China, India, Turki, dan Pakistan tetap diizinkan melintas, sementara kapal yang berafiliasi dengan AS dan sekutunya ditahan.

Dampak pada pasokan energi

Gangguan ini memukul negara-negara yang bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk, terutama India.

Menurut pejabat Kementerian Pelayaran India, sekitar 1,67 juta ton minyak mentah, 320.000 ton LPG, dan hampir 200.000 ton LNG tertahan di kapal berbendera India di sisi barat selat tersebut. India sendiri mengimpor sekitar 88% kebutuhan minyaknya, dengan lebih dari setengahnya berasal dari kawasan Teluk.

Beberapa pelonggaran sempat terjadi. Dua kapal LPG India diizinkan melintas pada 14 Maret, disusul sebuah tanker minyak Saudi yang membawa sekitar satu juta barel untuk India. Namun, menurut laporan Reuters, Iran meminta imbalan dalam bentuk dukungan diplomatik, termasuk bantuan untuk membebaskan kapal tanker Iran yang disita.

BRICS dan tekanan solidaritas

Pernyataan Shakib Mehr mencerminkan upaya Teheran memanfaatkan krisis ini untuk menggalang dukungan dari negara-negara non-Barat.

Ia memperingatkan bahwa negara anggota BRICS bisa menjadi sasaran berikutnya jika tidak menunjukkan sikap bersama terhadap apa yang disebutnya sebagai tindakan “ilegal”.

“Mungkin besok hal ini terjadi pada salah satu anggota BRICS,” katanya. “Kita harus menunjukkan solidaritas kita terhadap tindakan-tindakan ilegal ini.”

Namun respons di dalam BRICS tidak seragam. Rusia secara terbuka mengecam serangan AS-Israel, sementara China cenderung menggunakan nada lebih hati-hati. Brasil dan Afrika Selatan mengambil posisi yang lebih moderat, menyerukan deeskalasi sambil tetap mengkritik kekerasan.

Di Afrika Selatan, pemerintah bahkan memerintahkan penyelidikan atas keterlibatan Iran dalam latihan angkatan laut BRICS sebelumnya, sebuah langkah yang memicu kritik dari Washington.