![]() |
| Ketua Parlemen Iran Ali Larijani memberikan konferensi pers di Teheran, Iran, 1 Desember 2019. | AP PHOTO |
Pejabat tinggi Iran menuding negara-negara mayoritas Muslim tidak menunjukkan solidaritas saat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel memasuki pekan ketiga, di tengah eskalasi militer yang meluas di kawasan Teluk.
Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada pemerintah dan umat Muslim global, penasihat keamanan senior Iran, Ali Larijani, menyebut respons dunia Islam terhadap perang ini sangat terbatas.
Ia menilai sebagian besar negara bersikap pasif meski Iran mengklaim menjadi sasaran serangan besar selama proses diplomasi berlangsung.
Pernyataan ini muncul ketika ketegangan di kawasan meningkat tajam sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari. Iran merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Yordania, dan Irak, yang disebutnya menargetkan aset militer AS. Negara-negara tersebut mengecam serangan itu sebagai eskalasi berbahaya.
Dalam suratnya, Larijani menggambarkan konflik ini sebagai ujian solidaritas dunia Islam. Ia mempertanyakan sikap negara-negara Muslim yang dinilai tidak berpihak, dan mendesak mereka meninjau posisi dalam konfrontasi antara Iran dan apa yang ia sebut sebagai poros AS-Israel.
Surat tersebut juga menyinggung negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Ia mengkritik pemerintah yang mengecam serangan balasan Iran, termasuk sindiran yang diduga mengarah ke Uni Emirat Arab.
Presiden UEA, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, sebelumnya menyebut Iran sebagai “musuh” saat mengunjungi korban serangan di rumah sakit.
Di tengah situasi ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak mencari gencatan senjata maupun negosiasi dengan Washington. Dalam konferensi pers, ia membantah laporan yang menyebut adanya komunikasi dengan AS.
“Tidak, kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi. Kami siap membela diri kami selama yang diperlukan,” katanya.
Araghchi juga menanggapi seruan Presiden AS Donald Trump kepada sekutu-sekutunya untuk membantu mengamankan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Ia menyebut langkah tersebut sebagai tanda kelemahan.
“Payung keamanan AS yang dipuja-puja terbukti penuh lubang dan justru mengundang masalah, bukan mencegahnya. AS sekarang memohon-mohon kepada negara lain, bahkan China, untuk membantu mengamankan Hormuz,” tulisnya di platform X.
Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas, kini praktis terganggu oleh konflik yang berlangsung. Gangguan ini memicu lonjakan harga energi global dan menambah tekanan terhadap negara-negara Asia yang bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.
Sejauh ini, belum ada komitmen publik dari negara-negara sekutu AS untuk mengirimkan kekuatan militer guna membuka kembali jalur tersebut. Jepang dan Australia dilaporkan menolak permintaan Washington.
Konflik yang terus meluas ini juga berdampak pada korban jiwa. Otoritas Iran menyebut lebih dari 1.300 orang tewas akibat serangan sejak akhir Februari, sementara negara-negara Teluk terus menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya risiko konflik regional yang lebih luas.

0Komentar