Pemandangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Hanul di Uljin, Gyeongsangbuk-do. | KOREA HYDRO & NUCLEAR POWER


Lonjakan harga minyak global dan gangguan pasokan energi memaksa negara-negara Asia mengambil langkah darurat setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menghambat arus minyak dan gas melalui Selat Hormuz—jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan lebih dari 80% LNG Timur Tengah menuju Asia.

Krisis ini dipicu serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari. Sejak itu, ratusan kapal tanker tertahan di sekitar selat, memutus salah satu jalur energi paling krusial bagi kawasan. Dampaknya cepat terasa: harga energi melonjak dan pemerintah di Asia bergerak mengamankan pasokan sekaligus menahan tekanan ekonomi domestik.

Korea Selatan, yang mengimpor sekitar 70% minyak mentahnya dari Timur Tengah, memilih memperluas penggunaan sumber energi alternatif. 

Pemerintah di Seoul mencabut pembatasan pembangkit listrik tenaga batu bara dan meningkatkan utilisasi pembangkit nuklir hingga 80%. Langkah ini dibarengi rencana anggaran tambahan yang mencakup kompensasi bagi perusahaan penyulingan, voucher energi untuk rumah tangga, dan subsidi logistik bagi eksportir.

Menteri Keuangan Koo Yun Cheol mengatakan kepada Bloomberg TV bahwa pemerintah memprioritaskan respons jangka pendek terhadap situasi Timur Tengah. 

"Prioritas utama pemerintah saat ini adalah merespons situasi Timur Tengah dalam jangka pendek, sembari mengurangi ketergantungan struktural Korea terhadap minyak dalam jangka menengah hingga panjang," ujarnya. 

Seoul juga akan melepas 22,46 juta barel dari cadangan strategis selama tiga bulan, sebagai bagian dari koordinasi dengan International Energy Agency.

Tekanan serupa dirasakan Vietnam, di mana harga bahan bakar domestik naik antara 21% hingga 32% sejak konflik dimulai. Pemerintah di Hanoi mencari dukungan dari mitra regional untuk menjaga pasokan. 

Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nguyen Hoang Long meminta bantuan Jepang dan Korea Selatan dalam sebuah forum keamanan energi di Tokyo. 

Dua kilang utama Vietnam yang memenuhi sekitar 70% kebutuhan nasional sangat bergantung pada minyak mentah dari Timur Tengah. Pemerintah juga menghapus tarif impor bahan bakar hingga akhir April.

Di Asia Selatan, India mulai meninjau permintaan bantuan energi dari negara tetangga. Bangladesh meminta pasokan 5.000 ton diesel, sementara Sri Lanka dan Maladewa mengajukan permintaan serupa. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Randhir Jaiswal mengatakan pemerintah tengah mempertimbangkan permintaan tersebut. 

"Kami telah menerima permintaan serupa dari beberapa negara lain, termasuk Sri Lanka dan Maladewa, dan permintaan-permintaan ini sedang dikaji dengan mempertimbangkan kebutuhan energi dan ketersediaan kami sendiri," katanya.

Ketegangan ini juga mendorong langkah antisipatif di negara lain. Jepang meminta Australia meningkatkan produksi LNG. Indonesia menyiapkan subsidi energi senilai US$22,6 miliar. 

Filipina bahkan mempertimbangkan pekan kerja empat hari jika krisis memburuk, sementara Thailand membekukan harga gas memasak dan menghentikan ekspor minyak bumi.

Center for Strategic and International Studies memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan berisiko membebani rantai pasok global dan mendorong harga energi lebih tinggi. Asia diperkirakan menanggung dampak terbesar, mengingat sekitar 80% minyak dan LNG yang melintasi jalur tersebut ditujukan ke kawasan ini.