Orang-orang berkumpul untuk berduka atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. MEHR NEWS AGRNCY


Badan ulama Iran yang berwenang memilih pemimpin tertinggi negara itu mengatakan mereka telah mencapai kesepakatan mayoritas mengenai pengganti Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Namun hingga Minggu (8/3), identitas pemimpin baru tersebut belum diumumkan ke publik.

Ahmad Alamolhoda, imam salat Jumat Mashhad sekaligus anggota Majelis Ahli—lembaga beranggotakan 88 ulama yang bertugas memilih pemimpin tertinggi—mengatakan pemungutan suara telah dilakukan dan sosok pengganti Khamenei sudah dipilih.

Menurut laporan Iran International, Alamolhoda membantah kabar yang menyebut majelis belum mencapai keputusan. Ia mengatakan persoalan kini berada di tangan Ayatollah Hosseini Bushehri, kepala sekretariat majelis, yang bertugas menyampaikan pengumuman resmi.

Anggota majelis lainnya, Ayatollah Mohammadmehdi Mirbaqeri, memberi gambaran serupa. Kepada kantor berita semi-resmi Mehr, ia mengatakan keputusan hampir final, meski masih ada hambatan prosedural sebelum nama pemimpin baru diumumkan.

"Pendapat pasti hampir tercapai," kata Mirbaqeri, seraya menambahkan bahwa beberapa proses administratif masih harus diselesaikan.

Pemilihan tersebut berlangsung di tengah tekanan besar menyusul konflik militer yang melanda Iran dalam beberapa pekan terakhir. Militer Israel pada Minggu mengeluarkan peringatan terbuka kepada siapa pun yang terlibat dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi baru Iran.

"Kami tidak akan ragu untuk menargetkan Anda juga. Anggap ini sebagai peringatan," tulis militer Israel dalam pesan berbahasa Farsi di platform X, menurut kantor berita Anadolu Agency.

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan Israel sempat menyerang lokasi yang dikaitkan dengan Majelis Ahli di kota Qom pada awal Maret, saat para anggota diduga mengadakan pertemuan. Pemerintah Iran membantah bahwa sidang sedang berlangsung pada saat serangan itu terjadi.

Beberapa laporan menyebut majelis awalnya mencoba melakukan pemungutan suara secara daring pada 3 Maret. Media oposisi Iran International mengatakan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mendorong anggota majelis untuk mendukung Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin yang tewas.

Media tersebut bahkan melaporkan Mojtaba telah terpilih. Namun klaim itu dibantah oleh media pemerintah Iran dan juga oleh konsulat Iran di Mumbai.

Petunjuk mengenai sosok pengganti sempat muncul dari anggota Majelis Ahli lainnya, Mohsen Heidari Alekasir. Ia mengatakan pemimpin berikutnya dipilih dengan mempertimbangkan pesan terakhir Khamenei mengenai kriteria penggantinya.

"Penggantinya harus seseorang yang dibenci oleh musuh," kata Alekasir, seperti dikutip Al Jazeera. Ia menambahkan, "Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya."

Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Mojtaba Khamenei sebagai pilihan yang "tidak dapat diterima".

Kematian Ayatollah Khamenei, yang dikonfirmasi media pemerintah Iran pada 1 Maret, menjadi salah satu peristiwa paling dramatis dalam konflik militer terbaru yang melibatkan Iran, AS, dan Israel. Menurut Anadolu Agency, lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas di berbagai wilayah Iran sejak operasi militer tersebut dimulai.

Di antara korban tewas terdapat sejumlah pejabat tinggi militer dan intelijen, termasuk Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh dan komandan IRGC Mohammad Pakpour.

Sejak 1 Maret, Iran dipimpin oleh dewan sementara yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i, serta perwakilan Dewan Wali Alireza Arafi.