![]() |
| Momen bersejarah saat kapal tanker minyak Shenlong Suezmax berhasil melewati Selat Hormuz di tengah ketegangan geopolitik. |
Para pemimpin dari Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang menyatakan kesiapan untuk membantu menjamin jalur aman pelayaran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal komersial dan lonjakan harga energi global.
Pernyataan bersama yang dirilis pemerintah Inggris pada Kamis itu menandai perubahan sikap sejumlah negara Eropa dan Asia setelah sebelumnya berhati-hati merespons permintaan Amerika Serikat agar sekutu mengerahkan kapal perang ke kawasan tersebut.
Keenam negara mengecam “dengan tegas serangan-serangan terkini oleh Iran terhadap kapal-kapal komersial tak bersenjata di Teluk” serta tindakan yang disebut sebagai penutupan de facto jalur pelayaran vital tersebut.
Mereka juga mendesak Teheran untuk “segera menghentikan ancamannya, pemasangan ranjau, serangan drone dan rudal serta upaya-upaya lain untuk memblokir Selat dari jalur pelayaran komersial.”
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia, dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Ketegangan meningkat sejak akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang kemudian direspons dengan aksi militer di kawasan Teluk.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump meminta “sekitar tujuh” negara, termasuk China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, untuk ikut mengamankan jalur tersebut.
Sejumlah negara sempat menolak atau memberikan respons hati-hati.
Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menegaskan bahwa negara-negara Eropa “bukan pihak dalam konflik tersebut” dan tidak akan terlibat dalam operasi militer langsung.
Pernyataan terbaru tidak secara eksplisit menyebut pengerahan kekuatan militer. Namun, keenam negara menyatakan kesiapan berkontribusi dalam perencanaan keamanan yang lebih luas dan menyambut keterlibatan negara-negara lain dalam upaya tersebut.
Di lapangan, eskalasi konflik terus memukul aktivitas pelayaran. Sedikitnya 17 kapal komersial dilaporkan diserang sejak perang dimulai, menurut The New York Times. Gangguan ini ikut mendorong harga minyak mentah Brent melampaui US$113 per barel, berdasarkan data Anadolu Agency.
Tekanan terhadap pasar energi juga mendorong langkah darurat dari International Energy Agency (IEA), yang menyetujui pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi.
Total pelepasan mencapai 400 juta barel atau sekitar dua kali lipat rekor sebelumnya saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. AS menyumbang 172 juta barel, sementara Jepang berkomitmen melepas 80 juta barel dari cadangannya.
Konflik yang lebih luas antara AS, Israel, dan Iran terus berkembang. Lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas di Iran sejak awal permusuhan.
Serangan Israel juga menjangkau target di Lebanon, sementara militer AS menggunakan amunisi penghancur bunker seberat 5.000 pon untuk menyerang fasilitas peluru kendali Iran di sepanjang pesisir dekat selat tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negaranya telah didekati sejumlah pihak yang meminta izin lintas aman bagi kapal mereka. Ia menegaskan militer Iran akan menentukan kapal mana yang diizinkan melintas, sebuah posisi yang oleh sejumlah analis dipandang sebagai peran baru Teheran sebagai penjaga jalur strategis tersebut.

0Komentar