Jet tempur Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris menembak jatuh drone Iran setelah dinilai mengancam pasukan koalisi di wilayah tersebut. | U.K. DEFENSE MINISTRY


Pasukan Inggris menembak jatuh sejumlah drone Iran dan meningkatkan operasi pertahanan di berbagai titik Timur Tengah pada akhir pekan, ketika ketegangan regional melonjak menyusul serangan balasan Tehran terhadap target-target yang terkait dengan negara Barat. Pemerintah Inggris mengungkapkan personelnya sempat berada hanya beberapa ratus yard dari lokasi serangan Iran.

Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan sebuah jet tempur Typhoon milik Royal Air Force (RAF) yang terbang dari Qatar menghancurkan drone Iran pada 1 Maret. Drone tersebut dilaporkan menuju wilayah udara Qatar dan ditembak menggunakan rudal udara-ke-udara dalam patroli defensif rutin.

Menurut pernyataan resmi kementerian, misi itu dilakukan untuk menjaga keamanan ruang udara Qatar sekaligus melindungi kepentingan Inggris di kawasan. Insiden tersebut diyakini menjadi kali pertama jet tempur Inggris menembak jatuh drone sejak konflik terbaru di kawasan pecah sehari sebelumnya.

Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan serangkaian serangan di berbagai wilayah Timur Tengah sebagai respons atas operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Konflik yang meluas membuat sejumlah negara Barat memperkuat postur pertahanan untuk melindungi pangkalan dan personel mereka.

Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan tim kontra-drone Inggris di Irak utara juga menembak jatuh beberapa drone Iran yang dinilai mengancam pangkalan koalisi tempat pasukan Inggris ditempatkan. Ia menjelaskan operasi tersebut dilakukan semata-mata untuk melindungi pasukan dan sekutu.

"Kami menembak jatuh drone-drone yang mengancam pangkalan, personel, atau sekutu kami," kata Healey kepada Sky News.

Healey juga mengungkapkan sekitar 300 personel Inggris berada di sebuah pangkalan di Bahrain ketika serangan Iran menghantam area di sekitarnya. Beberapa pasukan disebut berada hanya beberapa ratus yard dari titik dampak, meski seluruh personel dilaporkan selamat dan telah terhitung.

Di Siprus, dua rudal balistik diluncurkan ke arah pulau tersebut, lokasi kawasan Pangkalan Berdaulat Inggris di Akrotiri dan Dhekelia yang menjadi pusat operasi militer Inggris di kawasan. Healey mengatakan ia "cukup yakin" rudal itu bukan ditujukan ke Siprus. Namun laporan The Jerusalem Post menyebut rudal tersebut kemungkinan gagal mencapai target dan jatuh di laut.

Sejumlah jet tempur RAF, termasuk F-35B dan Typhoon yang berbasis di Siprus serta skuadron Typhoon di Qatar, kini menjalankan patroli udara defensif secara berkelanjutan. Inggris juga telah mengirim tambahan radar, pesawat tempur, dan sistem persenjataan ke kawasan dalam beberapa pekan sebelum konflik meningkat.

Pemerintah Inggris pada saat yang sama berusaha menjaga jarak dari operasi ofensif yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang diberi nama Operation Epic Fury dan dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada 28 Februari.

Ketika ditanya soal dukungan terhadap operasi tersebut, Healey mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah AS yang harus menjelaskan dasar hukum tindakannya. Ia menegaskan Inggris tidak terlibat dalam serangan ofensif itu, meski memperingatkan ancaman pembalasan Iran kini menjadi semakin nyata dan berpotensi meluas.

Seluruh pasukan Inggris di kawasan dilaporkan tetap dalam kondisi aman, namun status kesiagaan militer dinaikkan di tengah kekhawatiran eskalasi lanjutan di Timur Tengah.