Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat melakukan dialog bersama tim pemugaran dari Archaeological Survey of India (ASI) di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta. | Kementerian Kebudayaan


Pemerintah Indonesia menggandeng Archaeological Survey of India (ASI) untuk memperkuat konservasi dan pemugaran kompleks Candi Prambanan. Kerja sama ini menandai langkah baru dalam upaya pelestarian salah satu situs warisan dunia, dengan pendekatan teknis dan kolaborasi internasional yang lebih luas.

Kementerian Kebudayaan menyebut keterlibatan ASI merupakan tindak lanjut dari kesepakatan tingkat tinggi antara Indonesia dan India yang mulai dibangun sejak kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025. 

India, melalui ASI, sebelumnya telah terlibat dalam berbagai proyek pemugaran situs bersejarah di Asia dan kawasan lainnya.

Dalam kunjungan awal ke kawasan Prambanan, tim ASI mengidentifikasi sejumlah candi perwara yang memerlukan penanganan lanjutan. Mereka mengusulkan penggunaan metode anastylosis, yakni teknik pemugaran yang memanfaatkan kembali batu asli yang ditemukan di lokasi situs. Penambahan material baru dilakukan terbatas, hanya untuk menjaga stabilitas struktur.

Pendekatan ini menghadapi tantangan teknis, terutama karena banyak elemen batu arsitektur tersebar di area yang luas. Proses identifikasi dan pengelompokan batu menjadi bagian dari tahap awal yang dinilai krusial sebelum pemugaran fisik dilakukan.

Tahap pertama kerja sama akan difokuskan pada dokumentasi menyeluruh dan kemungkinan proyek percontohan pada satu atau dua candi perwara. Model ini diharapkan menjadi dasar sebelum pekerjaan diperluas ke struktur lain di kompleks tersebut.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa pelestarian Prambanan tidak dapat dipisahkan dari konteks kawasan sekitarnya. Ia menyebut kompleks ini terhubung secara historis dan kultural dengan situs lain di sekitarnya.

"Kompleks Prambanan tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari satu lanskap budaya besar bersama Candi Sewu dan Plaosan. Karena itu, upaya konservasi yang kita lakukan tidak hanya memulihkan bangunan candi, tetapi juga menjaga keseluruhan ekosistem budaya di kawasan tersebut," ujarnya.

Selain pendekatan konvensional, pemerintah juga membuka peluang penggunaan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk membantu proses identifikasi serta rekonstruksi komponen candi.

ASI, lembaga arkeologi India yang berdiri sejak 1861, dikenal memiliki pengalaman panjang dalam konservasi situs bersejarah di berbagai negara, termasuk Kamboja, Laos, Vietnam, Uzbekistan, dan Mongolia. Kolaborasi ini dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring pelestarian warisan budaya lintas negara.