![]() |
| Menteri Luar Negeri Marco Rubio berbicara selama rapat Kabinet di Gedung Putih pada 30 April 2025. | WHITE HOUSE |
Amerika Serikat meningkatkan tekanan diplomatik kepada sekutu utamanya di Asia Timur untuk ikut menjaga keamanan Selat Hormuz, di tengah gangguan berkepanjangan yang mengancam salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin melakukan pembicaraan terpisah dengan mitranya di Jepang dan Korea Selatan. Ia menekankan pentingnya koordinasi internasional untuk menjaga jalur pelayaran tetap terbuka, saat blokade de facto oleh Iran memasuki minggu ketiga.
Langkah ini mengikuti seruan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya meminta sejumlah negara termasuk Jepang, Korea Selatan, serta negara Eropa untuk berkontribusi dalam operasi pengamanan maritim. Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut negara-negara yang terdampak harus ikut “menyumbangkan kekuatan angkatan laut”, dengan janji dukungan dari Washington.
Pemerintah Jepang menanggapi secara hati-hati. Dalam percakapan dengan Rubio, Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menegaskan bahwa stabilitas jalur pelayaran menjadi kepentingan global, terutama bagi negara yang bergantung pada impor energi.
“Memastikan kebebasan dan keamanan navigasi di Selat Hormuz sangat penting bagi komunitas internasional, termasuk Jepang, dari perspektif keamanan energi,” kata Motegi, seperti dikutip Reuters.
Meski demikian, Tokyo belum mengambil keputusan untuk mengirimkan kapal perang. Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan belum ada kebijakan resmi terkait pengerahan militer ke kawasan tersebut.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang juga menegaskan bahwa dalam pembicaraan itu tidak ada permintaan eksplisit dari AS.
Di Seoul, pendekatan serupa terlihat. Menteri Luar Negeri Cho Hyun menyampaikan belasungkawa atas korban militer AS dan mengapresiasi bantuan evakuasi warga Korea Selatan dari kawasan konflik. Namun, pemerintahnya menilai usulan pengerahan kapal perang memerlukan pertimbangan mendalam.
Permintaan Trump untuk kontribusi militer, menurut kantor kepresidenan Korea Selatan, akan ditangani “dengan sangat hati-hati”.
Ketergantungan kedua negara terhadap energi dari Timur Tengah menjadi faktor utama dalam kalkulasi ini. Jepang mengimpor sekitar 95% kebutuhan minyaknya dari kawasan tersebut, dengan sekitar 70% melewati Selat Hormuz. Korea Selatan juga sangat bergantung pada jalur yang sama, hingga kini bahkan memberlakukan pembatasan harga bahan bakar untuk meredam dampak krisis.
Sejak konflik regional meningkat pada akhir Februari, setidaknya 20 kapal dilaporkan diserang di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations. Situasi ini menempatkan sekutu AS dalam posisi sulit—di antara kebutuhan menjaga pasokan energi dan risiko keterlibatan militer langsung.

0Komentar