![]() |
| Harga bensin AS menembus US$3 per galon untuk pertama kalinya sejak November 2025. | ERIC MCLEAN/UNSPLASH |
Harga bensin di Amerika Serikat menembus US$3 per galon untuk pertama kalinya sejak November 2025, menyusul lonjakan harga minyak dunia akibat serangan militer AS dan Israel terhadap Iran. Kenaikan ini terjadi di tengah terganggunya arus pasokan energi global, terutama setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz merosot tajam.
Rata-rata nasional yang sebelumnya berada di US$2,94 per galon melonjak melewati ambang US$3 pada Senin. Para analis memperkirakan kenaikan tambahan 10 hingga 30 sen dalam beberapa hari ke depan, seiring kilang mulai menyerap harga minyak mentah yang lebih tinggi.
Ketegangan meningkat setelah konflik membuat pergerakan kapal melalui Selat Hormuz — jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia — hampir terhenti. Perusahaan intelijen pelayaran Windward kepada Al Jazeera menyebut lalu lintas di kawasan itu anjlok sedikitnya 80%. Sejumlah perusahaan asuransi dan perusahaan minyak besar disebut menarik diri dari koridor tersebut.
Dampaknya merembet ke pasar gas. QatarEnergy, salah satu eksportir LNG terbesar dunia, menghentikan produksi dalam langkah yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya. Harga berjangka gas alam di Eropa pun melonjak tajam.
Di pasar minyak, harga Brent sempat menembus US$81 per barel pada perdagangan Selasa pagi di Eropa, naik lebih dari 14% dalam lima sesi, menurut data yang dikutip Yahoo Finance. Sementara itu, Associated Press melaporkan minyak mentah AS naik 7,4% pada Senin menjadi hampir US$72 per barel.
Analis di Goldman Sachs memperkirakan premi risiko sebesar US$18 per barel sudah tercermin dalam harga saat ini. Konsultan energi Wood Mackenzie memperingatkan harga bisa melampaui US$100 per barel jika penutupan Hormuz berlangsung lama.
Patrick De Haan, kepala analisis perminyakan di GasBuddy, mengatakan rata-rata harga bensin nasional kemungkinan bergerak ke kisaran US$3,10 hingga US$3,15 per galon dalam beberapa pekan mendatang. Ia menilai lonjakan ini akan terasa bertahap.
"Harga bensin di AS tidak akan meroket," katanya kepada USA Today, "tetapi ini akan mempercepat kenaikan musiman yang sudah berlangsung." Ia menambahkan bahwa arah harga akan ditentukan oleh seberapa dalam serangan yang terjadi dan apakah aliran pasokan terganggu dalam jangka panjang.
Tom Kloza, penasihat senior di pemasok bahan bakar Gulf Oil, memperkirakan harga bisa mencapai US$3,25 per galon pekan ini. Ia mencatat sejumlah pemasok grosir telah menaikkan harga hingga 25 sen per galon. Kenaikan itu terjadi bersamaan dengan peralihan musiman ke bensin kualitas musim panas yang memang lebih mahal.
Sejumlah analis di Barclays juga mengingatkan bahwa jika harga minyak mentah menembus US$100 per barel, harga eceran bensin berpotensi mendekati level di atas US$4,30 per galon seperti pada bulan-bulan awal perang Rusia-Ukraina.
Lonjakan harga energi ini menjadi tantangan politik bagi Presiden Donald Trump, yang sebelumnya mengeklaim keberhasilan menekan biaya energi. Bob McNally, presiden Rapidan Energy Group, mengatakan kepada Reuters bahwa Gedung Putih tampak bersedia menanggung risiko politik dari kenaikan harga minyak demi tujuan kebijakan luar negerinya di Iran.

0Komentar