![]() |
| Kapal Induk AS USS Abraham Lincoln. Foto diambil pada Januari 2012. | US NAVY |
Di tengah berlanjutnya Operasi Epic Fury terhadap Iran, Amerika Serikat menghadapi kekhawatiran baru dari sekutu-sekutunya di Indo-Pasifik. Mereka menilai keterlibatan militer besar di Timur Tengah berpotensi mengurangi kemampuan AS menjaga keseimbangan kekuatan di Asia, terutama dalam menghadapi Tiongkok.
Sekitar 40% kapal Angkatan Laut AS yang siap operasi kini ditempatkan di sekitar Timur Tengah. Di antaranya kapal induk USS Abraham Lincoln serta sedikitnya enam kapal perusak rudal yang biasanya berbasis di pelabuhan Pasifik seperti California, Hawaii, dan Jepang.
Satu-satunya kapal induk AS yang ditempatkan permanen di Asia, USS George Washington, saat ini masih menjalani perawatan di pangkalan utamanya di Yokosuka, Jepang.
Armada yang terlalu terbebani
Kekhawatiran itu mencuat dalam pertemuan tertutup anggota parlemen Jepang pada Senin (2/3). Seorang pejabat senior kementerian luar negeri Jepang mengatakan Tokyo telah meminta jaminan dari Washington agar aset militer tidak ditarik dari kawasan Indo-Pasifik.
Bryan Clark, mantan pejabat pertahanan yang kini meneliti operasi angkatan laut di Hudson Institute, mengatakan kepada Reuters bahwa Angkatan Laut AS sedang menghadapi tekanan besar.
"Angkatan Laut AS sedang kelebihan beban," ujarnya. Ia menambahkan, jika konflik dengan Iran berlarut, ada kemungkinan nyata AS akan mengurangi kehadiran angkatan lautnya di Asia untuk memperkuat operasi di Timur Tengah. "Armada tidak cukup untuk menjaga kehadiran yang stabil di setiap kawasan," katanya.
Di Taipei, anggota parlemen dari partai berkuasa Taiwan, Chen Kuan-ting, juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia mendesak agar operasi tersebut berlangsung cepat dan terbatas.
"Kami berharap operasi ini cepat, terbatas, dan sumber daya dapat segera dialihkan kembali ke Asia," katanya kepada Reuters.
Ia memperingatkan konflik berkepanjangan dapat mengganggu stabilitas Indo-Pasifik dan membuka ruang bagi Beijing meningkatkan tekanan terhadap Taiwan.
Dampak pada persediaan amunisi
Operasi yang diluncurkan pada 28 Februari oleh AS dan Israel itu juga disebut menguras persediaan amunisi presisi. Kapal perang AS menembakkan rudal jelajah Tomahawk dalam serangan pembuka.
Produsen pertahanan RTX Corporation menyatakan akan meningkatkan produksi tahunan Tomahawk menjadi lebih dari 1.000 unit. Namun, sejumlah analis menilai upaya membangun kembali cadangan akan memakan waktu bertahun-tahun.
Sebagai perbandingan, dalam invasi Irak 2003, sekitar 800 rudal Tomahawk diluncurkan. Dengan tingkat produksi beberapa tahun terakhir, jumlah itu bisa membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk diganti sepenuhnya.
Jepang, yang telah memesan ratusan rudal Tomahawk dari AS, dilaporkan menghadapi keterlambatan pengiriman. Jan van Tol, senior fellow di Center for Strategic and Budgetary Assessments, mengatakan jadwal pengadaan bisa semakin mundur jika kebutuhan operasional di Timur Tengah terus meningkat.
Seorang pejabat AS yang berbicara tanpa menyebut nama mengatakan kepada Reuters bahwa membangun kembali cadangan amunisi di Indo-Pasifik merupakan hal sentral untuk mencegah China mengambil langkah militer terhadap Taiwan dalam jangka menengah.
Situasi ini muncul beberapa bulan setelah Washington merilis strategi keamanan baru yang menempatkan Indo-Pasifik sebagai prioritas utama dan memusatkan perhatian pada pencegahan terhadap Taiwan. Namun, keterlibatan militer simultan di sejumlah kawasan memunculkan pertanyaan di kalangan sekutu mengenai kemampuan AS mempertahankan fokus strategisnya.

0Komentar