Recep Tayyip Erdoğan, Presiden ke-12 dan petahana dari Republik Turki. | AL JAZEERA


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dengan menyatakan bahwa sebagian warga Israel kini memandang pemimpin mereka sebagai “bencana terbesar sejak Holocaust.”

Pernyataan itu disampaikan Erdogan pada Rabu (11/3) dalam acara buka puasa Ramadan bersama anggota parlemen dari partainya, Justice and Development Party (AKP), di Ankara. Kritik tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangkaian konflik militer yang melibatkan Israel, Iran, dan kelompok bersenjata di kawasan.

Dalam pidatonya, Erdogan mengatakan semakin banyak warga Israel yang harus berlindung di bunker akibat serangan roket dan kini menyalahkan kepemimpinan Netanyahu atas situasi tersebut.

“Warga Israel yang menghabiskan malam di tempat perlindungan kini semakin banyak mengatakan bahwa Netanyahu adalah bencana terbesar mereka sejak Holocaust,” kata Erdogan.

Ia juga memperingatkan bahwa konflik yang sedang berlangsung berpotensi meluas ke seluruh kawasan jika tidak segera dihentikan melalui jalur diplomasi.

“Perang ini harus dihentikan sebelum membesar dan membakar seluruh kawasan. Jika diplomasi diberi kesempatan, sangat mungkin untuk mencapai hal ini,” ujarnya kepada para legislator, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Pernyataan Erdogan muncul di tengah krisis regional yang kian dalam. Amerika Serikat dan Israel sebelumnya melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran pada akhir Februari, yang menurut laporan menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Teheran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta beberapa negara di kawasan yang menampung aset militer AS, termasuk Yordania dan Irak.

Di saat yang sama, Israel juga meningkatkan operasi militernya di Lebanon setelah kelompok bersenjata Hezbollah meluncurkan serangkaian serangan roket ke wilayah Israel utara sejak awal Maret.

Erdogan menegaskan bahwa posisi Turki dalam krisis tersebut “jelas”, yakni mendorong de-eskalasi dan upaya diplomasi untuk mencegah konflik regional yang lebih luas.

“Kami berusaha memadamkan api sebelum nyalanya semakin besar, sebelum lingkaran api menyebar lebih luas, dan sebelum lebih banyak nyawa dirugikan serta lebih banyak darah tertumpah,” katanya.

Pernyataan Erdogan tentang Holocaust menambah panjang daftar kritik kerasnya terhadap Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, presiden Turki itu pernah mengatakan bahwa Netanyahu telah “mencapai tingkat yang akan membuat Hitler iri dengan metode genosida yang ia terapkan.”

Pada tahun yang sama, Turki menghentikan hubungan dagang dengan Israel dan berupaya mendorong pengadilan di negaranya untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pejabat senior Israel.

Erdogan juga secara konsisten menyebut Hamas sebagai gerakan pembebasan Palestina dan menuduh Israel melakukan genosida di Gaza, tuduhan yang dibantah oleh pemerintah Israel.