Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato saat menghadiri buka puasa bersama siswa, atlet, dan pemuda di Bestepe Nation's Exhibition Hall di Ankara, Türkiye pada 26 Februari 2026. | AA


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding “lobi Zionis” sebagai pihak yang memprovokasi kampanye militer terhadap Iran, ketika serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel memasuki hari kelima dan ketegangan di kawasan terus melebar.

Pernyataan itu disampaikan Erdogan pada Selasa (3/3) dalam pidato di Ankara, di sela acara pengundian proyek perumahan sosial. Ia menyebut serangan terhadap Iran “dimulai dengan provokasi dari lobi Zionis”, sebagaimana dikutip media Turki.

Komentar tersebut memperkeras nada Ankara. Sebelumnya, Erdogan lebih spesifik menyalahkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas meningkatnya konflik.

Serangan militer terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dalam operasi yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Sejak itu, Iran meluncurkan serangan balasan ke Israel serta menargetkan aset militer AS di sejumlah negara Teluk, termasuk Qatar, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi, Erdogan mengatakan, “Serangan terhadap Iran, serta serangan rudal dan drone kamikaze terhadap negara-negara tetangga di wilayah Teluk telah memicu ketidakstabilan.” Ia menempatkan konflik tersebut dalam rangkaian krisis regional yang lebih luas.

Ketegangan juga memburuk di Asia Selatan. Pada akhir Februari, Pakistan melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan yang dibalas dengan serangan lintas batas. Islamabad menyatakan “perang terbuka” pada 27 Februari, dan bentrokan berlanjut di sepanjang perbatasan dengan laporan puluhan korban jiwa dari kedua pihak.

Turki, anggota NATO yang berbatasan langsung dengan Iran, dalam beberapa pekan terakhir mendesak Washington dan Teheran untuk mencapai kesepakatan melalui jalur diplomasi, terutama dalam perundingan terkait program nuklir Iran.

Erdogan kembali menegaskan komitmen Ankara untuk mendorong penyelesaian melalui dialog. Ia mengatakan pemerintahnya melakukan upaya diplomasi yang “intensif” dan mengerahkan seluruh sumber daya untuk mencapai gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan Ankara berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk melalui pembicaraan dengan Oman. Negara Teluk itu sebelumnya berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran sebelum serangan terjadi.

Sehari sebelumnya, Erdogan menyebut serangan terhadap Iran sebagai “pelanggaran nyata terhadap hukum internasional” dan memperingatkan adanya “dampak serius” bagi keamanan regional dan global jika konflik tidak dibendung.

Pemerintah Turki mengutuk operasi militer AS-Israel, namun juga menyatakan serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima”.

Konflik yang meluas ini turut mengguncang pasar energi global. Iran menghentikan ekspor energi melalui Teluk, sementara Qatar menangguhkan produksi LNG, memicu kekhawatiran gangguan pasokan di tengah meningkatnya ketidakpastian kawasan.