![]() |
| Vladimir Zelenskyy, Presiden Ukraina. | OFFICE OF THE PRESIDENCE—UKRAINE |
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan sejumlah negara di Timur Tengah dan sekutu Barat, termasuk Amerika Serikat, meminta bantuan Kyiv untuk menghadapi serangan drone Shahed buatan Iran yang kini digunakan dalam eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Dalam pidato video pada Selasa (4/3), Zelenskiy mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah menyiapkan langkah untuk membantu mitra-mitra internasional menghadapi ancaman drone yang sama selama ini digunakan Rusia secara luas dalam perang melawan Ukraina.
Ia mengatakan telah berbicara dengan beberapa pemimpin Timur Tengah mengenai situasi keamanan yang berkembang, termasuk raja Bahrain, putra mahkota Kuwait, serta para pemimpin Yordania, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Menurut Zelenskiy, pengalaman militer Ukraina dalam menghadapi drone Shahed menjadi alasan sejumlah negara meminta bantuan.
"Mitra-mitra kami menghubungi kami, Ukraina, meminta bantuan dalam bertahan dari Shahed. Ada juga permintaan dari pihak Amerika," kata Zelenskiy kepada Reuters.
Permintaan tersebut muncul di tengah eskalasi militer yang cepat di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer dan kepemimpinan Iran pada 28 Februari.
Sejak itu Iran merespons dengan serangkaian serangan balasan menggunakan rudal dan drone.
Lebih dari 800 rudal dan sekitar 1.400 drone serang dilaporkan telah diluncurkan Teheran terhadap berbagai target di kawasan, menurut sejumlah laporan militer yang dikutip media internasional.
Dalam pidatonya, Zelenskiy mengatakan pemerintah Ukraina sedang menyusun rencana bantuan tanpa mengorbankan kemampuan pertahanan negara itu sendiri
Ia mengatakan kementerian luar negeri, badan intelijen, kementerian pertahanan, serta komando militer telah diperintahkan untuk menyiapkan skema dukungan bagi negara-negara mitra.
"Militer kami memiliki kemampuan yang diperlukan. Para ahli Ukraina akan bekerja di lokasi, dan tim-tim sedang bernegosiasi mengenai hal ini," ujarnya, seperti dikutip Kyiv Independent.
Ukraina selama empat tahun terakhir telah menghadapi penggunaan drone Shahed secara besar-besaran oleh Rusia dalam perang yang dimulai pada 2022. Drone tersebut digunakan untuk menyerang infrastruktur energi, fasilitas militer, dan kawasan perkotaan di berbagai wilayah Ukraina.
Pengalaman itu membuat sistem pertahanan udara Ukraina berkembang pesat, terutama dalam metode deteksi dan pencegatan drone murah yang diluncurkan dalam jumlah besar. Data resmi Ukraina yang dikutip Euronews menunjukkan Rusia meluncurkan lebih dari 54.500 UAV tipe Shahed terhadap Ukraina sepanjang 2025 saja.
Serangan-serangan tersebut memaksa militer Ukraina mengembangkan berbagai metode pertahanan, mulai dari sistem radar hingga drone pencegat.
Panglima Tertinggi Ukraina Oleksandr Syrskyi mengatakan drone pencegat kini memainkan peran utama dalam melindungi wilayah udara negara itu. Menurutnya, lebih dari 70% drone Shahed yang berhasil dihancurkan di wilayah Kyiv dilakukan oleh sistem drone pencegat.
Perkembangan terbaru ini juga menandai perubahan posisi Kyiv dalam beberapa hari terakhir. Pada 2 Maret, Zelenskiy sebelumnya mengatakan Ukraina belum menerima permintaan resmi dari negara lain untuk berbagi keahlian menghadapi drone Shahed.
Dua hari kemudian, permintaan tersebut mulai muncul seiring meningkatnya serangan Iran di kawasan Timur Tengah.
Selain isu keamanan regional, Zelenskiy juga menyinggung perkembangan diplomasi terkait perang Rusia-Ukraina. Ia mengatakan pembicaraan trilateral yang melibatkan Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat masih direncanakan berlangsung dalam waktu dekat.
Negosiasi tersebut bertujuan mencari jalan menuju penghentian perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahunm. Dalam wawancara dengan surat kabar Italia Corriere della Sera, Zelenskiy mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah tidak menghentikan rencana pertemuan tersebut.
"Tidak ada yang menunda pertemuan trilateral berikutnya dengan Amerika, bahkan setelah serangan terhadap Iran, jadi saya yakin pertemuan itu mungkin akan berlangsung pada 5 atau 6 Maret sesuai rencana. Mungkin tidak di Abu Dhabi," katanya.
Rencana pertemuan itu sebelumnya dijadwalkan berlangsung di kawasan Timur Tengah, meskipun lokasi akhirnya masih belum dipastikan. Perang Rusia melawan Ukraina sejak 2022 telah memicu perubahan besar dalam dinamika keamanan global, termasuk meningkatnya penggunaan drone murah sebagai senjata utama dalam konflik modern.
Pengalaman Ukraina dalam menghadapi serangan drone massal kini mulai dilihat sebagai keahlian militer yang relevan bagi negara lain yang menghadapi ancaman serupa.

0Komentar