Militer China pada Minggu (1/3) mengumumkan angkatan laut dan udaranya akan menggelar manuver blokade serta operasi kontrol di sekitar Taiwan. Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) menyatakan latihan itu melibatkan pasukan yang bergerak mendekati pulau tersebut untuk memberi peringatan kepada apa yang disebut sebagai “kekuatan eksternal”.
Pengumuman itu datang di saat perhatian militer Amerika Serikat tersedot ke Timur Tengah, menyusul eskalasi konflik dengan Iran. Sejumlah analis menilai momentum ini menempatkan Taiwan dalam posisi yang lebih rentan dibanding beberapa tahun terakhir.
Timingnya sulit untuk diabaikan. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan memicu kampanye militer yang oleh Presiden Donald Trump disebut bisa berlangsung “empat minggu atau kurang”.
Tiga personel militer AS dilaporkan tewas dalam rangkaian operasi tersebut. Trump pada Minggu (1/3) mengatakan “kemungkinan akan ada lebih banyak korban sebelum ini berakhir”.
![]() |
| Asap mengepul di sebuah kawasan di Tehran, Iran menyusul serangan militer Israel dan Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026). | Aljazeera |
Konflik itu mendorong pengerahan besar aset angkatan laut AS ke kawasan Teluk, termasuk kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford. Konsentrasi kekuatan ini dinilai mengurangi fleksibilitas Washington di kawasan Indo-Pasifik.
Sejumlah analis pertahanan telah memperingatkan sejak pertengahan Februari bahwa Beijing bisa memanfaatkan keterlibatan AS di Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap Taiwan. Mereka menilai penyebaran armada dan fokus intelijen AS ke Timur Tengah membuka ruang bagi China untuk menguji respons kawasan melalui latihan militer, intrusi udara, atau manuver maritim.
Penundaan paket senjata dan diplomasi Trump–Xi
Di saat bersamaan, pemerintahan Trump dilaporkan menunda paket penjualan senjata senilai sekitar US$13 miliar ke Taiwan yang sebelumnya telah mendapat persetujuan informal Kongres pada Januari.
Laporan The New York Times menyebut Gedung Putih meminta lembaga terkait tidak melanjutkan proses tersebut guna menjaga momentum menjelang pertemuan puncak Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 31 Maret hingga 2 April di Beijing.
Beacon Policy Advisors dalam laporan terbarunya menyebut sinyal dari Washington menunjukkan keinginan mempertahankan status quo menjelang KTT tersebut.
“Sinyal jelas yang datang dari pemerintahan Trump adalah bahwa mereka hanya ingin mempertahankan status quo saat ini menjelang KTT bulan April,” tulis lembaga itu.
Jeremy Chan, analis senior di Eurasia Group, menilai Washington kemungkinan hanya menunda, bukan membatalkan, paket senjata tersebut sampai kunjungan Trump rampung.
“Washington kemungkinan akan menunda tetapi tidak membatalkan paket senjata untuk Taiwan sampai setelah kunjungan Trump,” ujarnya.
Tekanan kawasan yang kian terbuka
Latihan terbaru PLA juga berlangsung di tengah meningkatnya dinamika keamanan regional. Pada 25 Februari, Jepang mengumumkan rencana penempatan rudal permukaan-ke-udara jarak menengah Type-03 di Pulau Yonaguni, sekitar 110 kilometer dari Taiwan, pada tahun fiskal 2030.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan langkah itu ditujukan untuk “mengurangi kemungkinan serangan bersenjata terhadap Jepang”. China sebelumnya menuduh Tokyo berupaya menciptakan ketegangan regional dan memprovokasi konfrontasi militer.
![]() |
| Kapal perusak Type 055 (atau Kapal penjelajah kelas Renhai), sebuah kapal perang siluman berpeluru kendali milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. | TAIWAN SECURITY MONITOR |
Tekanan militer Beijing terhadap Taiwan memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada akhir Desember, PLA menggelar latihan terbesar sepanjang sejarah di sekitar pulau tersebut dalam operasi bertajuk “Justice Mission 2025”. Latihan itu mencakup peluncuran 27 roket ke perairan sekitar Taiwan dan lebih dari 130 sorti penerbangan dalam satu hari.
Untuk pertama kalinya, komando tersebut secara terbuka menyatakan latihan itu dimaksudkan mencegah keterlibatan militer asing. Analis dari Jamestown Foundation mencatat latihan tersebut mensimulasikan operasi perebutan Kepulauan Penghu dan garis pantai timur Taiwan—wilayah yang dianggap strategis dalam skenario invasi lebih luas.
Taiwan di bawah tekanan berlapis
Data pemerintah Taiwan menunjukkan rata-rata lebih dari 300 pelanggaran zona identifikasi pertahanan udara terjadi setiap bulan sejak Presiden Lai Ching-te menjabat.
Pada Januari, sebuah drone PLA dilaporkan melintas di atas Kepulauan Pratas, yang dikelola Taiwan, dalam insiden yang disebut sebagai pelanggaran wilayah udara pertama dalam beberapa dekade.
Dalam situasi ini, Taipei menghadapi tekanan berlapis. Pemasok senjata utamanya sedang terlibat konflik di Timur Tengah, pengiriman persenjataan berikutnya tertunda karena pertimbangan diplomatik, sementara intensitas operasi militer China di sekitar pulau itu terus meningkat.
Beijing tidak menyebut latihan terbarunya sebagai eskalasi. Namun pernyataan Komando Teater Timur yang menegaskan operasi tersebut bertujuan memperingatkan “kekuatan eksternal” memperlihatkan pesan yang diarahkan melampaui Selat Taiwan.



0Komentar