balapan Formula 1 di Autódromo José Carlos Pace (Interlagos), Brasil.


Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, sedang menjajaki kemungkinan masuk ke ajang balap mobil paling prestisius di dunia, termasuk Formula One dan FIA World Endurance Championship (WEC). Rencana ini disebut sebagai bagian dari upaya perusahaan memperluas pengaruh merek mereka di pasar global.

Laporan Bloomberg menyebutkan perusahaan yang bermarkas di Shenzhen itu sedang mengevaluasi berbagai opsi untuk memasuki kompetisi motorsport papan atas. Di antaranya membangun tim balap dari awal atau mengakuisisi tim yang sudah ada di grid.

Pembahasan disebut masih berada pada tahap awal dan belum ada keputusan final yang diambil.

Minat tersebut muncul menjelang perubahan besar regulasi teknis F1 yang akan berlaku pada 2026. Aturan baru itu menekankan penggunaan unit tenaga hybrid yang lebih kuat dengan kapasitas baterai lebih besar. Perubahan ini dipandang selaras dengan kekuatan utama BYD dalam teknologi elektrifikasi dan baterai kendaraan.

Perusahaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir memang berupaya membangun citra performa tinggi untuk melengkapi reputasi mereka di kendaraan listrik massal. 

Salah satu langkahnya melalui sub-brand premium, Yangwang, yang memproduksi mobil sport listrik Yangwang U9 Xtreme. Model ini dilaporkan mencapai kecepatan hampir 500 km/jam saat pengujian di sirkuit di Jerman.

BYD juga menggelontorkan investasi sekitar 5 miliar yuan, atau sekitar US$700 juta, untuk membangun fasilitas pengujian dan lintasan balap yang terbuka bagi publik di China.

Di luar rencana masuk ke F1 atau WEC, perusahaan ini telah mulai membangun kehadiran di dunia motorsport secara bertahap. Awal tahun ini BYD menandatangani kerja sama dengan SRO Motorsports Group untuk menjadi mitra safety car resmi pada kejuaraan FFSA GT Championship dan seri touring Prancis.

Langkah tersebut memperluas eksposur BYD di ajang balap Eropa yang selama ini didominasi pabrikan otomotif Barat.

Dalam ajang reli, kendaraan hybrid plug-in mereka, BYD Shark, juga mencatat hasil penting setelah memenangkan Reli Frontera Aventura di Republik Dominika pada 2025. Kemenangan itu menjadikannya kendaraan hybrid plug-in pertama yang meraih gelar di kompetisi tersebut.

Selain F1 dan WEC, penyelenggara Formula E juga disebut pernah mendekati BYD untuk bergabung sebagai pabrikan peserta. Namun pembicaraan tersebut berjalan lambat karena berbagai kendala logistik.

Potensi masuknya BYD ke Formula One muncul saat kompetisi itu sendiri sedang mengalami ekspansi. Tim baru yang didukung oleh General Motors melalui merek Cadillac dijadwalkan bergabung sebagai tim ke-11 pada musim 2026.

Jika rencana tersebut terwujud, BYD akan menjadi salah satu pabrikan otomotif China pertama yang berkompetisi di puncak motorsport global.

Perusahaan itu juga tengah mempercepat ekspansi internasional. BYD telah melampaui penjualan Tesla di lebih dari 20 pasar global dan menargetkan penjualan luar negeri melebihi 800.000 unit kendaraan pada 2025, hampir dua kali lipat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.