Asap membubung di atas tangki depot minyak di Teheran pada 8 Maret 2026, setelah serangan semalam saat konflik dengan Iran meningkat.


Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Israel menghentikan serangan terhadap fasilitas energi Iran setelah serangan udara besar menghantam sejumlah instalasi penyimpanan bahan bakar di sekitar Teheran. Permintaan tersebut menandai upaya pertama Washington menahan sekutunya sejak kedua negara memulai operasi militer bersama terhadap Iran pada akhir Februari.

Menurut laporan Axios, pesan itu disampaikan oleh pejabat senior Amerika Serikat kepada otoritas Israel pada tingkat politik tinggi, termasuk kepada Kepala Staf militer Israel Eyal Zamir.

Serangan yang menjadi pemicu permintaan tersebut terjadi pada Sabtu malam ketika jet tempur Israel menargetkan sedikitnya 30 fasilitas penyimpanan bahan bakar di dalam dan sekitar Teheran. Kebakaran besar dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi dan asap hitam menyelimuti sebagian wilayah ibu kota Iran.

Insiden itu juga memicu peringatan hujan asam bagi sekitar 10 juta penduduk kota tersebut. Serangan tersebut merupakan kali pertama Israel secara langsung menargetkan infrastruktur energi Iran sejak konflik terbaru dimulai pada 28 Februari.

Pemerintahan Trump memiliki beberapa alasan untuk menentang serangan terhadap sektor energi Iran. Pejabat AS menilai target tersebut dapat berdampak langsung pada warga sipil Iran, yang menurut mereka sebagian besar tidak mendukung pemerintahnya.

Washington juga disebut mempertimbangkan masa depan sektor minyak Iran setelah perang. Pemerintahan Trump dilaporkan ingin menjaga potensi akses terhadap industri energi negara itu jika situasi politik Iran berubah.

Seorang penasihat Presiden mengatakan kepada Axios, "Presiden tidak menyukai serangan itu. Dia ingin menyelamatkan minyaknya. Dia tidak ingin membakarnya. Dan ini mengingatkan orang-orang pada harga bensin yang lebih tinggi."

Serangan terhadap infrastruktur energi juga memicu kekhawatiran di Washington mengenai kemungkinan pembalasan Iran terhadap fasilitas minyak di kawasan Teluk, yang dapat memperluas konflik.

Seorang pejabat Israel menggambarkan reaksi awal dari AS sebagai pesan yang sangat tegas, dengan menyebut respons Washington sebagai "WTF".

Pernyataan publik dari pejabat AS kemudian mengindikasikan jarak Washington dari operasi tersebut. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan kepada wartawan bahwa Amerika Serikat tidak terlibat dalam serangan terhadap fasilitas energi Iran.

Ia menambahkan bahwa target yang dipilih Israel "belum tentu" sejalan dengan tujuan militer AS.

Menteri Energi AS Chris Wright menyampaikan pesan yang lebih tegas dalam wawancara dengan CNN, dengan mengatakan, "AS tidak menargetkan infrastruktur energi sama sekali."

Ketegangan yang meningkat segera tercermin di pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak melewati US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun.

Lonjakan tersebut terjadi di tengah gangguan pelayaran di Selat Hormuz yang dilaporkan terkait dengan tindakan Iran selama konflik berlangsung.

Teheran memperingatkan bahwa serangan lanjutan terhadap fasilitas minyaknya dapat memicu pembalasan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk, yang menurut sejumlah analis berpotensi mendorong harga minyak hingga US$200 per barel.

Presiden Trump juga menyinggung risiko tersebut dalam unggahan di platform Truth Social. Ia memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi respons keras jika mencoba mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz.

"Jika Iran melakukan apapun yang menghentikan aliran minyak di dalam Selat Hormuz, mereka akan dihajar oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS dari yang sudah mereka terima sejauh ini," tulisnya.

Peringatan serupa datang dari senator Partai Republik Lindsey Graham, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung kuat operasi militer terhadap Iran.

Dalam pesannya kepada Israel di platform X, Graham menulis, "Harap berhati-hati dalam memilih target. Ekonomi minyak Iran akan sangat penting" untuk membangun kembali negara tersebut setelah rezimnya jatuh.