![]() |
| Pengendara mengantri di sebuah pompa bensin di tengah kenaikan harga di Quezon City, Metro Manila pada 9 Maret 2026. | AFP |
Lebih dari 400 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Filipina menghentikan operasi sementara di tengah lonjakan harga energi yang dipicu gangguan pasokan global. Krisis ini merembet ke sejumlah negara Asia Tenggara, memaksa pemerintah mengambil langkah darurat untuk menjaga ketersediaan bahan bakar.
Gangguan aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz menjadi pemicu utama. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel, menekan negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Filipina termasuk yang paling terpukul. Sekitar 98% kebutuhan minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah, menurut Departemen Energi setempat.
Kepolisian Nasional Filipina pada Minggu mengonfirmasi ratusan SPBU tutup akibat lonjakan harga yang tajam. Harga solar naik lebih dari P23 per liter dalam satu kali penyesuaian, dengan sejumlah SPBU menjual bahan bakar di atas P100 per liter.
Menteri Energi Filipina Sharon Garin mengingatkan cadangan bahan bakar nasional berada dalam tekanan. Ia menyebut stok yang ada berpotensi hanya cukup hingga akhir April.
“Skenario terburuknya adalah kita mungkin tidak punya cukup atau bisa benar-benar kehabisan,” ujarnya.
Tekanan serupa muncul di Malaysia. Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan subsidi bahan bakar melonjak drastis dalam hitungan hari, dari RM700 juta menjadi RM3,2 miliar per bulan. Kenaikan ini terjadi seiring harga minyak global yang melonjak dari sekitar US$70 ke hampir US$120 per barel.
Meski berstatus produsen minyak, Malaysia tetap mengimpor hampir setengah kebutuhannya melalui jalur yang kini terganggu.
Vietnam juga bergerak cepat dengan menaikkan harga bahan bakar eceran dua kali dalam tiga hari. Negara tersebut bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 85% impor minyak mentahnya, sehingga sensitif terhadap gejolak pasokan.
Respons kawasan mulai mengarah pada koordinasi bersama. Para menteri luar negeri dan ekonomi ASEAN menggelar pertemuan khusus pada 13 Maret, menyerukan penghentian konflik dan menjaga jalur pasokan energi tetap terbuka.
Filipina sebagai ketua ASEAN tahun ini memangkas hari kerja pemerintah untuk menghemat konsumsi bahan bakar, sekaligus mengupayakan penangguhan pajak cukai energi.
Thailand memilih menahan ekspor energi ke hampir semua negara, kecuali Laos dan Myanmar, guna mengamankan pasokan domestik. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan harga minyak telah naik sekitar 45% dan gas 55% sejak akhir Februari, dengan potensi mendorong inflasi kawasan hingga 4,6% pada 2026.
Upaya mencari sumber alternatif belum membuahkan hasil signifikan. Analisis Reuters menunjukkan kapasitas cadangan LNG dari AS dan Australia terbatas, sementara fasilitas di Australia sudah beroperasi penuh. Pemerintah Filipina mulai mempertimbangkan pembelian minyak dari Rusia, termasuk opsi mengamankan satu hingga dua juta barel untuk cadangan darurat.
Di tengah tekanan fiskal, pembahasan anggaran ikut terdampak. Pimpinan Senat Filipina mendukung usulan menunda KTT ASEAN 2026 di Cebu dan mengalihkan dana sebesar P17 miliar untuk subsidi bahan bakar.
Senator Imee Marcos menyarankan jika penundaan tidak memungkinkan, skala acara perlu diperkecil sekaligus dimanfaatkan untuk mengamankan komitmen pasokan dari negara anggota yang memiliki sumber daya energi seperti Brunei dan Indonesia.

0Komentar