Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Danantara Indonesia, Presiden Prabowo Subianto menekankan, pentingnya mengelola kekayaan nasional untuk masa depan Indonesia. 

Presiden Prabowo Subianto memperingatkan para pejabat pemerintah agar tidak menyampaikan laporan yang tidak akurat atau sekadar menyenangkan pimpinan, saat menghadiri acara tasyakuran satu tahun berdirinya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di Jakarta, Rabu (11/3).

Peringatan itu disampaikan Prabowo di tengah evaluasi terhadap kinerja lembaga pengelola investasi negara tersebut yang baru beroperasi selama satu tahun.

Dalam sambutannya, Prabowo menyinggung kesulitan memperoleh laporan yang menurutnya benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan. Ia menegaskan tidak ingin menerima laporan yang dimanipulasi atau dibuat untuk menyenangkan atasan.

"Saya susah dapat laporan. Mudah-mudahan ini laporan yang benar. Jangan main-main lagi dengan saya, laporan palsu, laporan menyenang-nyenangkan, laporan supaya bisa akal-akalan. Saya kasih peringatan keras ini," kata Prabowo, seperti dikutip Detik.

Meski memberi teguran keras, Prabowo juga menyampaikan apresiasi terhadap kinerja Danantara dalam tahun pertamanya. Ia mengatakan indikator keuangan lembaga tersebut menunjukkan peningkatan signifikan.

Menurut Prabowo, return on asset (ROA) Danantara pada 2025 meningkat lebih dari 300% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Ini cukup baik dan ini membuktikan premis kita mendirikan Danantara ini, bahwa tidak mungkin suatu manajemen yang baik kalau tidak di satu kendali, di satu tangan, di suatu manajemen," ujarnya.

Dalam acara tersebut, Prabowo duduk berdampingan dengan CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani dan Ketua Dewan Pengawas Danantara Erick Thohir.

Danantara sendiri diluncurkan pada 24 Februari 2025 sebagai lembaga investasi negara yang berada langsung di bawah presiden. Lembaga ini dibentuk untuk mengonsolidasikan pengelolaan aset pemerintah dan perusahaan milik negara dalam satu struktur manajemen.

Prabowo mengatakan skala entitas yang berada dalam pengelolaan Danantara ternyata jauh lebih besar dari perkiraan awal.

"Entitas kita ternyata bukan 250 perusahaan, tapi lebih dari seribu perusahaan," kata Prabowo.

Ia menambahkan bahwa skala pengelolaan tersebut menjadi tantangan manajemen yang tidak lazim.

"Tidak ada pelajaran manajemen di manapun di dunia, satu manajemen bisa kelola seribu entitas."

Peringatan mengenai laporan yang tidak akurat bukan kali pertama disampaikan Prabowo. Pada Januari 2026, ia juga menegur direksi sejumlah badan usaha milik negara yang dinilai tidak menunjukkan kinerja memadai dan meminta mereka yang tidak mampu bekerja secara efektif untuk mengundurkan diri.