![]() |
| Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. | AFP / JIM WATSON |
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan dukungannya terhadap serangan militer yang menargetkan pemerintah Iran, beberapa jam sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan ofensif bersama ke sejumlah lokasi strategis di negara itu.
Pernyataan tersebut pertama kali disampaikan Zelenskyy dalam wawancara dengan Sky News yang dirilis 27 Februari, saat ketegangan meningkat menyusul mandeknya perundingan nuklir di Jenewa. Setelah serangan dimulai, ia kembali menyuarakan dukungan melalui pidato video dan media sosial.
"Saya akan mendukung operasi yang ditujukan terhadap rezim, bukan terhadap rakyatnya. Ini perbedaan yang besar," kata Zelenskyy dalam wawancara tersebut.
Beberapa jam setelah wawancara itu dipublikasikan, Amerika Serikat dan Israel mengumumkan dimulainya "Operation Epic Fury", operasi militer terkoordinasi yang menargetkan fasilitas militer Iran di Teheran, Isfahan, Qom, dan sejumlah kota lain. Israel menyebut bagian operasinya sebagai "Operation Roaring Lion".
Presiden AS Donald Trump menyampaikan dalam pidato video bahwa operasi tempur besar-besaran telah dimulai dan memperingatkan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran agar menyerahkan senjata. Ia mengatakan kelompok itu akan menghadapi "kematian yang pasti" bila menolak.
Serangan ini terjadi setelah tiga putaran perundingan tidak langsung antara AS dan Iran di Jenewa yang dimediasi Oman berakhir tanpa kesepakatan pada 26 Februari. Iran menolak tuntutan Washington untuk membongkar fasilitas nuklirnya serta menyerahkan uranium yang telah diperkaya. AS menegaskan pencabutan sanksi hanya dapat dilakukan jika ada pembatasan permanen terhadap program nuklir Teheran.
Pada 19 Februari, Trump memberi tenggat 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, seraya memperingatkan bahwa "hal-hal yang sangat buruk" akan terjadi jika pembicaraan gagal.
Dalam pernyataan terpisah pada 28 Februari, Zelenskyy menyebut serangan terhadap Iran sebagai tindakan "adil". Ia merujuk pada lebih dari 57.000 drone Shahed buatan Iran yang, menurutnya, telah diluncurkan ke Ukraina sejak invasi besar-besaran Rusia pada 2022.
Zelenskyy menuduh Teheran tidak lagi sekadar memasok perangkat keras, tetapi telah menjadi "mitra teknologi utama" Moskwa. Ia menyebut Iran mentransfer cetak biru manufaktur yang memungkinkan Rusia memproduksi drone tersebut di dalam negeri.
"Adalah adil untuk memberi rakyat Iran kesempatan membebaskan diri mereka dari rezim teroris — membebaskan diri dari rezim itu dan menjamin keamanan bagi semua negara yang telah menderita akibat teror yang berasal dari Iran," tulisnya, seperti dikutip Reuters.
Ia juga menekankan pentingnya mencegah konflik meluas, sembari menyatakan bahwa "setiap kali ada ketegasan Amerika, para penjahat global melemah".
Ketegangan regional meningkat menjelang serangan. Inggris untuk sementara menutup kedutaannya di Teheran dan menarik sebagian staf diplomatik dengan alasan keamanan. Kedutaan Besar AS di Israel mengizinkan keberangkatan personel non-esensial beserta keluarga mereka.
Pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah disebut sebagai yang terbesar sejak invasi Irak pada 2003.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan tujuan operasi tersebut adalah "menghilangkan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh rezim teroris di Iran" serta "menciptakan kondisi bagi rakyat Iran yang berani untuk mengambil nasib mereka ke tangan mereka sendiri".

0Komentar