![]() |
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel. Adem Altan AFP |
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan meminta Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mundur sebagai syarat kemajuan dalam negosiasi bilateral yang sedang berlangsung secara tertutup.
Laporan The New York Times yang mengutip sejumlah sumber menyebut Washington menegaskan tidak akan ada kesepakatan selama Díaz-Canel masih menjabat. Namun, AS disebut tidak menuntut perubahan menyeluruh terhadap struktur kekuasaan Kuba, termasuk keluarga Castro yang selama ini dianggap tetap berpengaruh di balik pemerintahan.
Pembicaraan antara kedua negara sempat berlangsung tanpa sorotan, hingga akhirnya dikonfirmasi langsung oleh Díaz-Canel pada akhir pekan lalu. Ia menyatakan dialog tersebut berfokus pada penyelesaian persoalan bilateral melalui jalur diplomasi.
"Diskusi ini difokuskan untuk mencari solusi melalui dialog atas persoalan bilateral antara kedua negara," ujar Díaz-Canel dalam konferensi pers yang disiarkan televisi nasional.
Dari pihak Washington, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memimpin jalannya negosiasi. Ia dikenal memiliki latar belakang keluarga imigran Kuba. Sementara dari sisi Havana, peran negosiasi turut melibatkan Raúl Rodríguez Castro, cucu mantan presiden Raúl Castro, meski tidak memegang jabatan resmi dalam pemerintahan.
Tekanan ekonomi yang kian terasa
Seiring berlangsungnya dialog, tekanan ekonomi terhadap Kuba meningkat tajam. Pemerintahan Trump sejak akhir Januari menerapkan pembatasan terhadap pasokan minyak ke negara pulau tersebut, memperburuk krisis energi yang sudah berlangsung lama.
Díaz-Canel menyebut negaranya tidak menerima kiriman bahan bakar selama lebih dari tiga bulan. Kondisi ini memuncak pada awal pekan ketika jaringan listrik nasional runtuh, menyebabkan pemadaman total di seluruh wilayah Kuba.
Di saat yang sama, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan pengenaan tarif terhadap negara yang tetap memasok minyak ke Kuba.
Kebijakan ini berdampak pada negara seperti Meksiko yang sebelumnya masih mengirim bantuan energi atas dasar kemanusiaan, namun kemudian menghentikan pasokan di bawah tekanan Washington.
Pergeseran simbolik tanpa reformasi
Sejumlah pejabat di Washington meyakini bahwa pencopotan Díaz-Canel dapat membuka ruang bagi reformasi ekonomi di Kuba. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya sejalan dengan analisis sejumlah pengamat.
Mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional era Barack Obama, Ricardo Zúñiga, menilai Díaz-Canel tidak pernah menunjukkan minat pada perubahan kebijakan yang mendasar.
"Kapten ikut tenggelam bersama kapal, dan kapalnya sedang tenggelam," ujarnya.
Pandangan serupa datang dari Marlene Azor Hernández, mantan akademisi Universitas Havana yang kini berada di pengasingan. Ia berpendapat bahwa mengganti presiden saja tidak cukup untuk mengubah arah kebijakan negara.
"Mereka perlu menyingkirkannya bersama seluruh biro Partai Komunis dan GAESA," katanya, merujuk pada konglomerat bisnis militer yang menguasai sektor-sektor utama ekonomi Kuba.

0Komentar