ilustrasi kalap tanker. | unsplash.com/Sheng Hu

Amerika Serikat memperketat pengecualian sanksi minyak Rusia dengan secara eksplisit melarang pengiriman ke Kuba, Korea Utara, dan wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, di tengah sorotan atas dugaan pengiriman terselubung ke negara yang sedang dilanda krisis energi.

Departemen Keuangan AS melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC) pada 19 Maret menerbitkan revisi Lisensi Umum 134A. Aturan ini menggantikan versi sebelumnya yang dirilis 12 Maret, yang semula dimaksudkan untuk meredakan gejolak pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Dalam versi awal, pengecualian hanya membatasi transaksi terkait Iran. Revisi terbaru memperluas larangan dengan memasukkan Kuba, Korea Utara, dan Krimea sebagai tujuan yang tidak lagi diperbolehkan dalam skema pengecualian tersebut.

Perubahan kebijakan ini muncul setelah laporan perusahaan intelijen maritim Windward mengungkap dugaan pengiriman bahan bakar Rusia ke Kuba. 

Sebuah kapal tanker berbendera Hong Kong, Sea Horse, disebut “kemungkinan telah membongkar muatan sekitar 190.000 barel gasoil di Kuba pada awal Maret,” dengan menggunakan praktik pelayaran menipu, termasuk mematikan sistem identifikasi otomatis dan memalsukan tujuan.

Laporan itu mendorong pertanyaan dari U.S.-Cuba Trade and Economic Council kepada OFAC pada 13 Maret terkait apakah pengecualian sebelumnya mencakup pengiriman minyak Rusia ke Kuba. Klarifikasi resmi baru keluar hampir sepekan kemudian melalui revisi lisensi.

Di saat yang sama, kapal tanker Rusia Anatoly Kolodkin—yang telah dikenai sanksi oleh AS, Uni Eropa, dan Inggris—dilaporkan membawa sekitar 730.000 barel minyak mentah Urals dari pelabuhan Primorsk sejak 8 Maret. Data perusahaan analitik Kpler memperkirakan kapal itu bisa tiba di Kuba paling cepat 4 April.

Tekanan energi di Kuba sendiri semakin dalam. Pemadaman listrik nasional pada 16 Maret membuat sekitar 10 juta warga terdampak. Negara itu hampir tidak menerima impor bahan bakar sejak Januari, ketika pengiriman terakhir sebesar 86.000 barel dari Meksiko tiba.

Peneliti University of Texas Energy Institute, Jorge Piñón, mengatakan muatan dari Anatoly Kolodkin berpotensi menghasilkan sekitar 180.000 barel diesel. 

“Cukup untuk memenuhi kebutuhan harian Kuba selama sembilan atau sepuluh hari,” katanya, seraya mengingatkan bahwa cadangan energi negara itu saat ini sangat terbatas. “Kita harus ingat bahwa persediaan sudah kosong.”

Langkah Washington juga berkaitan dengan dinamika geopolitik yang lebih luas. Pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya menjaga stabilitas harga energi global di tengah gangguan pasokan dari kawasan Selat Hormuz akibat konflik Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyatakan pemerintah mempertimbangkan opsi melepas sekitar 140 juta barel minyak Iran yang tertahan di perairan internasional untuk menahan lonjakan harga.

Di sisi lain, militer AS terus memantau aktivitas Rusia di kawasan Karibia. Jenderal Francis Donovan, komandan Komando Selatan AS, mengatakan pihaknya mengawasi pergerakan kapal perusak Rusia yang dikawal kapal pengisi bahan bakar menuju Kuba.

Ia menyebut muatan kapal tanker tersebut “tidak diperkirakan akan mempengaruhi pasokan minyak Kuba secara signifikan,” dalam kesaksiannya di hadapan Senat AS.