Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa memperingatkan bahwa setiap fasilitas militer yang digunakan untuk menyerang Iran—termasuk yang berada di Eropa—dapat menjadi target serangan Teheran. Pernyataan itu memicu kekhawatiran bahwa perang yang kini berlangsung di Timur Tengah berpotensi meluas ke wilayah lain.
Ali Bahreini, duta besar Iran untuk PBB di Jenewa, menyampaikan peringatan tersebut dalam wawancara dengan Euronews pada Jumat. Ia menegaskan bahwa Teheran akan menganggap semua pangkalan yang terlibat dalam operasi militer terhadap Iran sebagai sasaran sah.
"Setiap fasilitas, setiap pangkalan yang digunakan untuk menyerang Iran akan menjadi target yang sah bagi pasukan militer kami," kata Bahreini. Ia menambahkan kebijakan itu berlaku bagi "setiap lokasi yang berada di Eropa."
Pernyataan itu muncul ketika puluhan ribu tentara Amerika Serikat ditempatkan di sekitar 40 pangkalan militer di berbagai negara Eropa. Sejumlah pangkalan tersebut disebut telah mendukung operasi militer sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Tekanan pada jalur bantuan
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan dampak kemanusiaan yang kian luas akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa pengiriman bantuan harus diberi jalur aman melewati selat tersebut. Jalur itu merupakan salah satu rute pelayaran paling penting di dunia.
Menurut Fletcher, gangguan terhadap lalu lintas kapal tidak hanya berdampak pada kawasan Teluk. Biaya pengiriman global kini sekitar 16% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, sementara harga tepung di Gaza melonjak hingga 270%, berdasarkan data yang ia sampaikan dan dikutip oleh AP News.
Ia juga memperingatkan bahwa jika situasi terus berlangsung, penundaan pasokan kemanusiaan bisa mencapai enam bulan.
Data dari United Nations Conference on Trade and Development menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun drastis sejak konflik dimulai. Rata-rata 129 kapal per hari pada Februari merosot menjadi hanya empat kapal pada 9 Maret—penurunan sekitar 97%.
Kekhawatiran eskalasi
Ketegangan juga meningkat setelah serangkaian insiden militer yang melibatkan negara-negara NATO.
Sebuah drone buatan Iran sebelumnya dilaporkan menyerang pangkalan militer Inggris di Siprus pada awal konflik. Insiden itu mendorong Inggris membuka pangkalannya untuk mendukung serangan balasan defensif AS.
Sistem pertahanan udara NATO juga mencegat tiga rudal balistik Iran yang mengarah ke wilayah udara Turki—sebuah langkah yang oleh sejumlah analis dipandang sebagai ambang eskalasi baru.
Markas besar militer NATO, Supreme Headquarters Allied Powers Europe, berusaha meredakan kekhawatiran publik.
Seorang juru bicara aliansi itu mengatakan kepada Euronews bahwa NATO "memiliki kemampuan untuk mengalahkan ancaman apa pun yang ditujukan kepada aliansi."
Namun sejumlah analis militer mencatat bahwa sebagian persenjataan Iran memiliki jangkauan yang mampu mencapai wilayah Eropa. Rudal balistik Khorramshahr, misalnya, dilaporkan memiliki jangkauan hingga 3.000 kilometer—cukup untuk menjangkau kota-kota seperti Berlin dan Roma.
Perang yang kini memasuki minggu ketiga telah menewaskan ratusan orang sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Putranya yang juga dsebagai penerusnya, Ayatollah Mojtaba Khamenei, belum muncul di depan publik. Dalam pernyataan tertulis, ia berjanji akan terus memblokir Selat Hormuz.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan volume serangan Iran telah menurun sejak awal konflik. Menurutnya, jumlah rudal yang diluncurkan Iran turun sekitar 90% dan serangan drone berkurang 95%, meski ia menegaskan ancaman militer masih tetap ada.

0Komentar