MQ-9 Reaper bersenjata lengkap meluncur di landasan pacu di Afghanistan, 4 November.| USAF


Amerika Serikat mengerahkan drone MQ-9 Reaper dan sekitar 200 personel militer ke Nigeria untuk mendukung operasi intelijen dalam menghadapi pemberontakan kelompok Islamis di wilayah utara negara itu. Pengerahan ini difokuskan pada pengawasan udara dan pelatihan, tanpa keterlibatan langsung dalam pertempuran.

Langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan keamanan di Nigeria, yang menghadapi ancaman berlapis dari kelompok seperti Boko Haram dan afiliasi Negara Islam di Afrika Barat. Serangan bom bunuh diri di Maiduguri pada 16 Maret yang menewaskan sedikitnya 23 orang menjadi pengingat bahwa situasi di lapangan masih rapuh.

Drone MQ-9, yang mampu terbang lebih dari 27 jam di ketinggian tinggi, digunakan khusus untuk misi pengumpulan intelijen. Pejabat dari kedua negara menegaskan bahwa aset tersebut tidak digunakan untuk serangan udara, dan personel AS tidak ditempatkan bersama unit tempur Nigeria di garis depan.

Operasi ini dijalankan dari lapangan udara di Bauchi, wilayah timur laut Nigeria. Kehadiran AS di sana menjadi bagian dari pembentukan sel fusi intelijen gabungan antara kedua negara, yang dirancang untuk mempercepat aliran informasi ke komandan di lapangan.

Mayor Jenderal Samaila Uba, direktur informasi pertahanan Nigeria, mengatakan dukungan tersebut diarahkan untuk menghasilkan intelijen yang bisa langsung digunakan dalam operasi. 

“Dukungan ini didasarkan pada pembentukan sel fusi intelijen AS–Nigeria yang baru, yang terus memberikan intelijen yang dapat segera ditindaklanjuti kepada para komandan lapangan kami,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peran AS sepenuhnya bersifat non-tempur. “Mitra kami dari AS tetap berada dalam peran yang sepenuhnya non-tempur, mendukung operasi yang dipimpin oleh otoritas Nigeria,” kata Uba.

Seorang pejabat pertahanan AS yang berbicara kepada Reuters menyebut pengerahan ini dilakukan atas permintaan pemerintah Nigeria. 

“Kami memandang ini sebagai ancaman keamanan bersama,” ujarnya, merujuk pada penyebaran jaringan militan yang terhubung dengan Negara Islam dan al-Qaeda di Afrika Barat.

Kehadiran ini memperluas jejak militer AS di Nigeria setelah kerja sama keamanan kedua negara meningkat dalam beberapa tahun terakhir. 

Pada akhir 2025, AS melakukan serangan udara terhadap kamp militan di Negara Bagian Sokoto atas permintaan Abuja. Pemerintah Nigeria saat itu menyebut 16 amunisi berpemandu GPS dilepaskan menggunakan platform MQ-9 untuk menargetkan kelompok bersenjata yang bergerak dari koridor Sahel.

Pengerahan terbaru juga mencerminkan penyesuaian strategi AS di Afrika Barat setelah kehilangan basis utama di Niger pada 2024. Junta militer di negara itu memerintahkan hampir 1.000 pasukan AS untuk hengkang, memaksa penutupan pangkalan drone di Agadez senilai US$110 juta yang sebelumnya menjadi pusat operasi kontraterorisme di kawasan Sahel.

Sebelum penempatan ini, aktivitas drone AS di Nigeria telah terdeteksi berasal dari Ghana. Laporan The Defense Post mencatat penerbangan pengawasan tersebut berlangsung selama berbulan-bulan, menandai keterlibatan yang kian intens bahkan sebelum kehadiran personel di Bauchi.

Di tengah tekanan yang terus berlangsung, militer Nigeria memperkirakan kelompok militan akan tetap mencari celah untuk menunjukkan eksistensi melalui serangan berskala besar. 

“Kelompok-kelompok ini akan mencari target-target oportunistik dan mungkin mencoba menunjukkan relevansi mereka melalui serangan-serangan yang sangat terlihat,” ujar Uba.