![]() |
| Seorang tentara Houthi berjalan di sepanjang pantai dengan kapal kargo di latar belakang di Laut Merah di lepas pantai Hodeidah, Yaman. | Shutterstock |
Ancaman kelompok Houthi di Yaman untuk memblokade Selat Bab el-Mandeb memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia, di tengah terganggunya jalur utama ekspor minyak dari Teluk.
Kelompok tersebut mengisyaratkan kemungkinan menutup jalur sempit di Laut Merah itu jika mereka secara resmi terlibat dalam konflik antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran. Selat Bab el-Mandeb selama ini menjadi alternatif penting bagi Arab Saudi untuk menyalurkan minyak setelah Selat Hormuz praktis tidak dapat dilalui.
Seorang pejabat militer Houthi, Abed al-Thawr, mengatakan langkah awal yang mungkin diambil adalah “deklarasi resmi blokade laut terhadap Amerika Serikat dan rezim Zionis”, seperti dikutip media Iran, Press TV. Pernyataan itu muncul setelah pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi menyebut pasukannya siap bertindak kapan saja.
Sinyal eskalasi juga terlihat dari pernyataan pejabat senior Houthi yang dikutip Al Jazeera, yang menyebut kelompok itu telah memutuskan bersekutu secara militer dengan Iran dan akan segera mengumumkan operasi bersama yang mereka sebut sebagai “Jam Nol”.
Jalur alternatif Saudi terancam
Ancaman tersebut muncul saat Arab Saudi berupaya mengalihkan ekspor minyaknya melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, memanfaatkan jaringan pipa East-West Petroline. Jalur ini menjadi opsi setelah Selat Hormuz ditutup secara efektif sejak awal Maret.
Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan puluhan kapal tanker besar menuju Yanbu untuk memuat minyak mentah. Aktivitas ekspor dari pelabuhan itu dilaporkan melonjak hingga sekitar 2,47 juta barel per hari, atau naik sekitar 330% dibandingkan sebelum konflik, menurut data yang dikutip Reuters.
Namun, jika Bab el-Mandeb ikut terganggu, jalur alternatif tersebut berisiko menjadi buntu. Sejumlah perusahaan pelayaran besar, termasuk Maersk, telah menghentikan transit melalui kawasan itu dengan alasan keamanan.
Operator lain seperti Hapag-Lloyd, MSC, dan CMA CGM juga mulai mengalihkan rute.
Risiko gangguan pasokan besar
Penutupan Selat Hormuz sebelumnya telah memangkas lalu lintas kapal hingga sekitar 97%, menurut laporan media Lebanon, An Nahar. Selat tersebut bersama Bab el-Mandeb merupakan dua titik sempit utama yang dilalui sekitar 30% perdagangan minyak laut dunia.
Lembaga Council on Foreign Relations memperkirakan gangguan di Hormuz saja berpotensi mengurangi hingga 20 juta barel per hari dari pasokan global. Angka itu jauh melampaui dampak embargo minyak Arab pada 1973.
Analis yang dikutip An Nahar memperingatkan bahwa jika kedua jalur tersebut terganggu secara bersamaan, harga minyak bisa melonjak tajam, dengan salah satu skenario menyebut potensi mencapai US$175 per barel.
Rekam jejak serangan
Kelompok Houthi sebelumnya telah menunjukkan kemampuan mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah. Sepanjang 2023 hingga 2024, mereka melancarkan lebih dari 100 serangan terhadap kapal komersial, memaksa banyak operator mengalihkan rute memutar melalui Afrika.
Posisi geografis mereka di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman—yang telah mereka kuasai sejak 2014—memberi kendali strategis atas Bab el-Mandeb, yang lebarnya sekitar 29 kilometer di titik tersempit.
Di Washington, Presiden Donald Trump menyerukan pembentukan koalisi angkatan laut untuk melindungi jalur pelayaran di kawasan tersebut. Namun, Pentagon mengakui belum memiliki kapasitas untuk mengawal kapal komersial secara menyeluruh di tengah meningkatnya risiko keamanan.
Ketegangan di dua jalur vital ini menempatkan pasar energi global dalam tekanan yang semakin besar, seiring konflik kawasan yang terus meluas.

0Komentar