![]() |
| Sting, sebuah pesawat tanpa awak (UAV) buatan produsen Ukraina, Wild Hornets, yang dirancang khusus untuk menghancurkan drone penyerang seperti seri Shahed dari Iran. | Wild Hornets |
Amerika Serikat dan Qatar mulai menjajaki kemungkinan memperoleh drone pencegat buatan Ukraina sebagai alternatif yang lebih murah untuk menghadapi gelombang serangan drone Shahed yang dikembangkan Iran. Pembicaraan awal ini berlangsung ketika negara-negara Teluk semakin sering menembakkan rudal pencegat mahal untuk menghancurkan pesawat nirawak yang relatif murah.
Informasi mengenai diskusi tersebut disampaikan sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan itu kepada Reuters pada 5 Maret. Menurut mereka, pembicaraan dilakukan di tingkat pemerintah dan belum melibatkan perusahaan swasta.
Teknologi yang menjadi fokus diskusi adalah drone pencegat yang mampu mendeteksi pesawat nirawak musuh yang masuk ke wilayah udara, lalu mengganggu sinyal komunikasi mereka hingga kehilangan kendali.
Ketertarikan negara-negara Teluk pada teknologi ini muncul di tengah kesenjangan biaya yang semakin mencolok antara senjata serangan dan sistem pertahanan udara konvensional.
Sejak Iran meluncurkan gelombang rudal dan drone setelah serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari, negara-negara di kawasan itu dilaporkan menembakkan ratusan rudal pencegat PAC-3 Patriot yang nilainya mencapai jutaan dolar per unit.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Washington telah meminta bantuan Kyiv terkait ancaman drone Shahed.
Ia mengatakan pemerintahnya telah menyiapkan sumber daya serta tenaga ahli untuk mendukung upaya tersebut.
"Saya telah menginstruksikan agar sumber daya yang diperlukan disediakan dan spesialis Ukraina hadir untuk memastikan keamanan yang diperlukan," kata Zelenskyy.
Ukraina sendiri menghadapi ancaman serupa sejak invasi Rusia. Pemerintah di Kyiv memperkirakan Moskwa telah meluncurkan sekitar 19.000 drone jarak jauh sepanjang musim dingin terakhir.
Dalam menghadapi serangan tersebut, Ukraina mengembangkan berbagai metode pencegatan berbiaya rendah, termasuk drone interceptor yang dapat diproduksi hanya dengan biaya beberapa ribu dolar per unit.
Zelenskyy menyebut pendekatan ini bisa membuka peluang kerja sama baru dengan mitra Barat dan negara-negara Teluk. Ia mengusulkan pertukaran langsung: Ukraina menyediakan drone pencegat, sementara mitra mereka memasok sistem pertahanan udara Patriot yang sangat dibutuhkan Kyiv.
"Jika mereka memberikannya kepada kami, kami akan memberikan interceptor kepada mereka. Ini pertukaran yang setara," ujarnya.
Seorang sumber diplomatik Barat yang dikutip Reuters mengatakan delegasi Ukraina pekan ini juga melakukan perjalanan ke Doha untuk membahas kerja sama pertahanan drone dengan pejabat Qatar. Delegasi lain disebut mengunjungi Abu Dhabi dalam rangka konsultasi serupa.
Inggris turut terlibat dalam tahap awal pembicaraan ini. Sebagian drone pencegat berpotensi disalurkan melalui Project Octopus, sebuah proyek bersama Inggris–Ukraina yang berfokus pada pengembangan serta produksi drone interceptor.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sebelumnya mengumumkan pada 1 Maret bahwa para ahli Ukraina akan bekerja bersama tim Inggris untuk membantu negara-negara Teluk menghadapi ancaman drone Iran.
Zelenskyy menegaskan setiap bentuk kerja sama pertahanan tersebut tidak boleh mengurangi kemampuan Ukraina sendiri. Ia juga meminta negara-negara Teluk—yang masih memiliki hubungan ekonomi dengan Moskwa—memanfaatkan pengaruh mereka untuk mendorong Rusia menuju gencatan senjata.

0Komentar