![]() |
| Vladimir Zelenskyy, Presiden Ukraina. | OFFICE OF THE PRESIDENCE—UKRAINE |
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa konflik yang meluas antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengganggu pasokan rudal pencegat pertahanan udara yang sangat dibutuhkan Kyiv. Ia menyebut pengiriman senjata sejauh ini masih berjalan, namun perang berkepanjangan di Timur Tengah bisa menggerus ketersediaan interseptor bagi Ukraina.
Peringatan itu disampaikan Zelenskyy kepada wartawan pada 1 Maret, setelah ia berbicara dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz. Ukraina sangat bergantung pada sistem pertahanan udara Patriot untuk menghadapi serangan balistik dan hipersonik Rusia, terutama di tengah intensitas serangan yang belum surut.
"Sejauh ini, belum ada sinyal seperti itu dari Amerika dan Eropa," kata Zelenskyy, merujuk pada indikasi gangguan pasokan. "Semua orang memahami bahwa bagi kami, ini adalah hidup kami, persenjataan yang tepat."
Namun ia menambahkan, "Kami memahami bahwa jika perang di Iran berlangsung lama, hal itu akan memengaruhi jumlah sistem pertahanan udara untuk kami."
Kekhawatiran itu berfokus pada rudal interseptor PAC-3 MSE yang digunakan dalam sistem Patriot. Interseptor ini dianggap sebagai salah satu senjata paling efektif Ukraina untuk menembak jatuh rudal balistik Rusia. Harga pengadaan untuk AS diperkirakan sekitar US$5 juta per unit.
Menurut Defense News, produksi PAC-3 saat ini berada di kisaran 600 unit per tahun. Pada September 2025, Pentagon menandatangani kontrak senilai US$9,8 miliar dengan Lockheed Martin untuk memproduksi hampir 2.000 interseptor tambahan, meski target peningkatan produksi hingga tiga kali lipat disebut membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Analisis media pertahanan Ukraina Defence-ua memperkirakan kebutuhan bulanan Kyiv melampaui 60 rudal PAC-3 hanya untuk menghadapi serangan balistik Rusia dengan intensitas saat ini. Nilainya mencapai sekitar US$300 juta per bulan.
Tekanan pada rantai pasokan ini muncul setelah AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran pada 28 Februari, menyasar fasilitas nuklir dan instalasi militer. Reuters melaporkan Iran membalas dengan rentetan roket ke Israel dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk.
Konflik itu dengan cepat melebar. Inggris mencegat drone Iran di atas Qatar dan, menurut Kyiv Independent, berjanji mengirim pakar pertahanan udara Ukraina untuk membantu negara-negara Teluk menghadapi ancaman drone dan rudal.
Di tengah situasi itu, jalur utama pengadaan senjata Barat bagi Ukraina tetap bertumpu pada inisiatif PURL, mekanisme yang dikoordinasikan NATO untuk mendanai pembelian senjata buatan Amerika bagi Kyiv. Sekitar US$4,5 miliar telah dijanjikan melalui skema ini hingga awal Februari, dengan 24 negara ikut serta.
Jerman mengusulkan agar sekutu secara kolektif memasok 35 rudal PAC-3 ke Ukraina. Berlin menawarkan lima rudal dengan syarat mitra lain menyediakan 30 rudal sisanya.
Zelenskyy mengatakan program tersebut masih berjalan dan ia memantau langsung komitmen pendanaan dari mitra-mitra Eropa. Namun dengan kapasitas produksi terbatas dan kebutuhan interseptor yang kini juga meningkat di Timur Tengah, setiap konflik berkepanjangan berpotensi memperketat persaingan atas sistem pertahanan udara yang sama.

0Komentar