![]() |
| Emblem militer dengan bendera Ukraina, Inggris, dan Prancis pada seragam tempur, simbol keterlibatan negara-negara Eropa. |
Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan Inggris dan Prancis masing-masing siap mengirim sekitar 5.000 personel militer ke Ukraina sebagai bagian dari Coalition of the Willing. Rencana itu diungkapkan dalam wawancara dengan Agence France-Presse (AFP) menjelang peringatan empat tahun invasi skala penuh Rusia pada 24 Februari.
Menurut Zelenskyy, total sekitar 10.000 pasukan atau setara satu brigade dari tiap negara dapat disiapkan oleh Inggris dan Prancis. Ia menambahkan sejumlah negara lain juga menyatakan kesiapan berkontribusi, meski detail jumlah dan perannya belum dipublikasikan.
Rencana penempatan pasukan ini muncul di tengah pembahasan arsitektur keamanan pascagencatan senjata. Pada 6 Januari lalu di Paris, Zelenskyy menandatangani Deklarasi Niat trilateral bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Kesepakatan itu memuat kerangka hukum bagi kehadiran militer Inggris, Prancis, dan mitra lain di wilayah Ukraina setelah gencatan senjata, termasuk rencana pendirian pusat logistik, penyimpanan senjata, serta pelatihan.
Koalisi tersebut, yang diluncurkan pada Maret 2025, kini disebut melibatkan lebih dari 30 negara. Namun hingga kini, Inggris dan Prancis menjadi motor utamanya.
Penempatan pasukan asing di Ukraina memicu perdebatan, terutama soal lokasi. Zelenskyy menolak gagasan bahwa kontingen hanya ditempatkan di wilayah barat yang relatif lebih aman.
“Kami ingin melihat kontingen tersebut lebih dekat ke garis depan,” ujarnya kepada AFP di Kyiv. “Tidak ada yang ingin berdiri di garis terdepan. Tetapi rakyat Ukraina ingin mitra kami berdiri bersama kami di garis depan.”
Ia mencontohkan bahwa jika Polandia yang belum mengonfirmasi partisipasi hanya menempatkan pasukan di Lviv, “itu tidak akan diperlukan bagi kami”. Meski begitu, ia mengakui belum ada mitra internasional yang bersedia menempatkan pasukan langsung di garis depan.
Moskwa merespons keras rencana tersebut. Pemerintah Rusia sebelumnya menyatakan setiap pasukan asing di wilayah Ukraina akan dianggap sebagai “target tempur yang sah” dan menuntut larangan eksplisit terhadap kehadiran militer Barat sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Pengumuman ini disampaikan ketika Ukraina bersiap memperingati empat tahun invasi yang dimulai pada 24 Februari 2022. Dalam wawancara yang sama, Zelenskyy menegaskan Ukraina “jelas tidak kalah” dalam perang dan mengklaim pasukannya telah membebaskan 300 kilometer persegi wilayah di sepanjang garis depan selatan. Ia tidak merinci kerangka waktunya, dan AFP menyebut klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina terus berlanjut. Pada Minggu, serangan skala besar dilaporkan menewaskan sedikitnya satu orang di Kyiv dan menghantam kota Lviv di barat.
Upaya diplomasi yang dimediasi Amerika Serikat juga belum menghasilkan terobosan berarti. Putaran pembicaraan berikutnya dijadwalkan awal Maret. Dalam wawancara terpisah dengan BBC, Zelenskyy menolak kemungkinan menyerahkan wilayah sebagai syarat gencatan senjata. Ia mengatakan langkah tersebut “akan memecah belah masyarakat kami”.

0Komentar