Kapal induk terbesar di dunia, kapal induk kelas Ford bertenaga nuklir Angkatan Laut A.S. USS Gerald R. Ford (CVN 78) tiba di St. Thomas, Kepulauan Virgin AS, 1 Desember 2025. | ABIGAIL REYES/U.S. NAVY

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan. Laporan The New York Times pada Sabtu (21/2 mengungkapkan pembahasan internal di Gedung Putih juga mencakup opsi kampanye yang lebih luas untuk menggulingkan kepemimpinan Iran jika langkah awal dan jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.

Perkembangan ini mendorong hubungan Washington dan Teheran ke titik paling tegang sejak bentrokan bersenjata selama 12 hari pada Juni lalu.

Trump sebelumnya memberi tenggat 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk menyelesaikan kesepakatan nuklir. Berbicara kepada wartawan di pesawat kepresidenan, ia mengatakan, "Kita akan mendapat kesepakatan, atau akan menjadi sangat buruk bagi mereka".

Negosiator kedua negara dijadwalkan bertemu di Jenewa pada Kamis dalam pembicaraan tidak langsung yang difasilitasi Oman. Pertemuan itu disebut-sebut bisa menjadi putaran terakhir. Washington dilaporkan memberi waktu tambahan 48 jam kepada Teheran untuk menyerahkan proposal nuklir terperinci sebagai syarat memperpanjang perundingan.

Di lapangan, AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Laporan Bloomberg dan sejumlah analis menyebut pengerahan ini sebagai konsentrasi kekuatan terbesar sejak invasi Irak 2003. Gugus serang kapal induk USS Abraham Lincoln beroperasi di Laut Arab, sementara USS Gerald R. Ford bergerak dari Laut Mediterania menuju kawasan. Kedua armada itu membawa sekitar 14 kapal perang dan diperkirakan 200 pesawat tempur, termasuk F-35C, F/A-18 Super Hornet, dan EA-18G Growler.

Menurut The New York Times, sasaran potensial mencakup markas besar Korps Garda Revolusi Islam Iran, fasilitas nuklir, serta lokasi peluncur rudal balistik. Pengebom siluman B-2 yang berbasis di AS juga dilaporkan dalam status siaga tinggi. Pejabat menyebut keputusan akhir berada di tangan presiden.

Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, menggambarkan frustrasi presiden dalam wawancara dengan Fox News. 

"Dia penasaran mengapa mereka belum, saya tidak ingin menggunakan kata 'menyerah' tapi mengapa mereka belum menyerah," ujarnya. Ia menambahkan, "Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan kekuatan laut dan angkatan laut yang begitu besar di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita?"

Pemerintahan Trump menyatakan garis merahnya adalah "pengayaan uranium nol" di wilayah Iran. Namun Witkoff dan Jared Kushner disebut memberi sinyal ruang kompromi terbatas jika Teheran dapat membuktikan tidak memiliki jalur menuju senjata nuklir.

Teheran merespons dengan nada keras. Juru bicara kementerian luar negeri, Esmaeil Baqaei, mengatakan setiap serangan, termasuk yang bersifat terbatas, "akan dianggap sebagai tindakan agresi. Dan negara mana pun akan merespons tindakan agresi... dengan garang". Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya "tidak akan tunduk pada tekanan AS".

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan ia masih melihat peluang tercapainya kesepakatan. Proposal yang tengah disiapkan, ujarnya, akan memuat "elemen-elemen yang dapat mengatasi kekhawatiran kedua belah pihak".

Ketegangan ini memicu respons internasional. India, Swedia, Serbia, Polandia, dan Australia meminta warganya meninggalkan Iran. AS juga memerintahkan personel non-darurat meninggalkan kedutaannya di Lebanon.

Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperingatkan parlemen bahwa negaranya menghadapi "hari-hari yang kompleks dan penuh tantangan" serta mengingatkan para pemimpin Iran agar tidak melancarkan serangan.

Dewan International Atomic Energy Agency dijadwalkan bertemu pada 2 Maret di Wina. Para diplomat kemungkinan membahas resolusi yang dapat merujuk Iran ke Dewan Keamanan PBB, bertepatan dengan tenggat yang ditetapkan Trump.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mendorong jalur diplomatik. "Iran berada pada titik terlemahnya saat ini. Kita harus benar-benar memanfaatkan waktu ini untuk menemukan solusi diplomatik," katanya.